Kamis, 23 Desember 2010

Amerika Bantu Israel 200 Juta Dollar untuk Biayai "Iron Dome"

Nazaret-Infopalestina: Meski sejumlah pihak menilai gagal dan sempat ditunda pemasangannya, Amerika tetap memutuskan untuk memberikan bantuan kepada Israel untuk membangun system pertahanan anti rudal “Iron Dome” (Kubah Besi).
Seperti dikutip sumber media Israel, Amerika telah mengalokasikan dana 200 juta dollar untuk membantu militer Israel membangun sintem pertahanan Iron Dome, system pertahanan untuk menangkap rudal atau roket yang mengancam entitas Israel di masa mendatang, terutama dari Jalur Gaza dan Libanon.
Menurut sumber Israel, Selasa malam (7/12), kongres Amerika telah menyetujui untuk menggelontorkan bantuan militer kepada Israel guna membangun system pertahanan anti rudal yang bisa melindungi Israel dari serangan kelompok perlawanan.
 
Ditunda Hingga 2011
Sebelumnya, pada pertengahan November lalu, Sabtu (13/11), surat kabar Israel Ma’arev melaporkan bahwa penjajah Zionis Israel secara tiba-tiba memutuskan untuk menunda pemasangan sistem pertahanan "Iron Dome" untuk menangkal rudal dan roket perlawanan Palestina. Menurut Ma’arev pemasangan system pertahanan ini akan ditunda hingga tahun 2011 mendatang.

Sebelumnya, bulan Juni 2010 lalu, Kementrian Pertahanan Israel telah mengumumkan bahwa pihaknya akan mengoperasikan sistem pertahanan "Iron Dome" pada bulan Oktober/November, sebagai sarana untuk mencegat rudal dan roket yang diluncurkan dari Jalur Gaza dan Libanon.

Namun sumber militer Israel mengatakan kepada AFP bahwa militer Israel telah memutuskan untuk menunda pemasangan sistem pertahanan tersebut hingga kuartal pertama tahun 2011, agar ada waktu lebih banyak lagi untuk melatih personil yang akan bekerja mengoperasi sistem tersebut karena beratnya kompleksitas system tersebut.

Sistem pertahanan rudal yang dikembangkan oleh perusahaan militer Israel “Rafael Defense Advanced Systems” atas bantuan dana keuangan dari Amerika Serikat, itu bertujuan untuk mencegat rudal dan peluru artileri yang ditembakkan dari jarak antara empat hingga 70 km. Dan setiap baterai rudal terdiri dari sistem radar teropong, pemantau dan program pengendalian senjata sangat canggih dan dilengkapi tiga sistem peluncuran, masing-masing berisi 20 rudal pencegat. Demikian menurut sumber militer Israel seperti dilaporkan Ma’arev.

Sudah Diuji Coba
Awal Januari 2010 lalu Israel mengklaim telah menguji coba sistem pertahanan roket Iron Dome. Yang diyakini akan mampu menangkal kiriman rudal-rudal yang kerap diluncurkan kelompok-kelompok perlawanan Hamas dan Hizbullah dari Libanon.
Sistem pertahanan ini diyakini akan ampuh dalam menangkal kiriman rudal dari luar. Meski demikian sebagian pejabat keamanan Israel mengakui sistem itu mungkin tidak akan mampu menghentikan setiap roket.
Ted Postol, seorang ahli pertahanan rudal di Massachusetts Institute of Technology, mengatakan apa yang dilakukan Israel hanya memberi manfaat kecil dalam membantu melindungi masyarakat setempat dari tembakan langsung. Apalagi jika dikaitkan dengan besarnya biaya untuk menangkal satu roket, yang mencapai sekitar $ 100.000.
Dalam sebuah ujicoba yang dilakukan, Iron Dome telah sukses mencegat roket yang dibuat menyerupai roket Qassam dan Model-Grad Katyusha berjarak dekat dalam serangkaian tes yang diadakan oleh Kementrian Pertahanan Israel.

Iron Dome menggunakan sebuah radar yang dapat menemukan serta melacak lokasi dari sebuah roket kemudian mencegatnya dengan sebuah pencegat misil kinetik. Baterai pertama yang akan ditempatkan sepanjang perbatasan Gaza akan terdiri dari tiga atau empat peluncur dan tiap peluncur memiliki 20 misil.

Untuk pengoperasian sistem ini, Angkata Udara Israel juga telah membentuk sebuah batalion baru. Batalion baru tersebut adalah bagian dari Divisi Pertahanan Udara dari Angkatan Udara Israel. Komandannya, Letkol Shabtai Ben-Boher, pernah menjabat sebagai komandan sebuah Batalion Misil Patriot.

Pejabat dari Batalion tersebut telah melakukan latihan mengoperasikan sistem-sistem tersebut serta memformulasikan sebuah doktrin untuk operasinya. Para tentara yang akan bergabung dengan Batalion ini adalah mereka yang telah dipilih dari unit-unit Divisi Pertahanan Udara. Latihan tersebut diadakan dengan menggunakan simulasi komputer dan fokus kepada komando dan sistem kontrol Iron Dome, sistem radar baru dan pelontar misil.
Angkatan Bersenjata Israel juga telah menemukan posisi-posisi sepanjang perbatasan Gaza yang akan dapat digunakan sebagai pangkalan bagi sistem tersebut, termasuk menempatkan sistem tersebut sepanjang perbatasan dengan Libanon.
 
Tidak Sepenuhnya Mampu Menangkap Roket Perlawanan
Sejumlah pakar pertahanan Israel menilai sistem ini tidak sepenuhnya bisa menangkap serangan roket ke wilayah Israel. Dalam sebuah laporan disebutkan, para pakar membenarkan bahwa sistem perlindungan Iron Dome tidak akan mampu langsung menghadapi roket-roket yang ditembakkan oleh Hamas, namun berselang 25 hingga 30 detik sesudah roket diluncurkan. Sementara untuk roket yang periode terbangnya kurang dari itu tidak akan dapat diantisipasi oleh system Iron Dome.

Bahkan diungkap pula bahwa Iron Dome tidak mampu melindungi pemukiman Yahudi ilegal, yang terletak sekitar 16 kilometer dari Jalur Gaza, seperti pemukiman Siderot, Ashkelon, Netivot, yang diklaim Israel sebagai wilayah-wilayah yang paling terpengaruh oleh tembakan roket Qassam.

Laporan lain menyebutkan, reaksi Iron Dome untuk mencegat roket yang ditembakkan tercatat lebih dari 30 detik. Sementara roket jarak pendek al Qassam hanya berada di udara selama 14 detik. Jadi, sistem Iron Dome yang dibangga-banggakan oleh pemerintah Zionis selama memang bisa dibilang tidak sepenuhnya mempu menangkap serangan roket-roket yang ditembakan kelompok perlawanan Palestina, kalau tidak dibilang sia-sia dan tidak ada gunanya.

Apakah karena ini kemudian Israel akhirnya menunda pemasangan system pertahanan anti roket ini di sepanjang perbaasan Jalur Gaza dan Libanon selatan? Belum ada pejelasan resmi dari pihak Israel soal penundaan ini kecuali masalah teknis, agar ada waktu lebih banyak lagi untuk melatih personil yang akan bekerja mengoperasikan sistem tersebut karena beratnya kompleksitas sistem pertahanan tersebut. (asw)

Infopalestina.com

0 komentar

Posting Komentar