Selasa, 07 Desember 2010

Salahuddin Al - 'Ayyubi, Ksatria Pembebas Palestina

"Anakku " pesan Salahuddin pada Az-Zahir menjelang wafatnya,"...jangan tumpahkan darah... Sebab darah yang terpercik tak akan tertidur".
Menggetarkan. Seorang Jenderal yang sarat dengan kisah perang menuturkan itu pada putera terkasih. Lebih dari 100 peperangan ia hadapi, dengan sifat ksatria, sesuai ajaran islam tertinggi, menjadikan beliau teladan apik masa kita. Yang kian medesak membutuhkan kehadiran sosok sekaliber dirinya.  Ditengah duka nestapa berkepanjangan rakyat Palestina, negeri- negeri muslim yang tercabik perang kemiskinan.

Ia, Salahuddin Al-Ayyubi, Sultan Mesir dan Syiria, memerintah 1174 M - 1193 M. Jenderal dan pejuang Muslim yang beretnis Qurdi, pendiri dinasti Ayyubiyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Iraq, Mekkah Hejaz dan Diyar Bakr. Pendahulunya bernama Nuruddin Zangi, Penggantinya Al- Aziz. Sultan Salahuddin juga seorang Ulama. Beliau memberikan catatan kaki (Hasyyah) dan penjelasan dalam Hadist Abu Daud.Salahuddin mencetuskan Kegiatan peringatan hari lahirnya Rasulullah Saw ( Maulid Nabi) pada abad ke 6 H, untuk membabgkitkan semangat umat Islam sebagaimana umat Kristen dengan Perayaan natal. Motivasi umat Islam tidak boleh kalah dengan Motivasi pasukan Salib (kristen). Salahuddin dikagumi dunia muslim dan non muslim karena kepemimpinan, kekuatan militer, sifatnya yang ksatria dan mulia saat menghadapi tentara salib. Salahuddin atau Saladi mendapat Reputasi besar di Eropa. Kisah perang da kepemimpinannya banyak dituangkan dalam puisi dan sastra eropa. Salah satunya "The Talisman" (1825 M) karya Walter Scott.

Shalahuddin, Ayah dan Pamannya
Ayah Salahuddin, Najamuddin  Ayyub dan Pamannya, Asaduddin Syirkuh meninggalkan kampung halamannya dakad Danau Fan, Pindah kedaerah Tikrit Irak. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi pada Imamuddin Zanky, Gubernur seljuk untuk Kota Mousul, Irak. Pahlawan muslim bernama lengkap Salah Ad-din Yusuf Ibnu ayyub, lahir di Benteng Tikrit, Irak, tahun 532 H/ 1138 M, ketika ayahnya menjadi penguasa seljuk di Tikrit. Sejak Kecil, Salahuddin senang membaca, berdiskusi tentang ilmu kalam, fiqh, Al-qur an dan Hadist. Ayahnya memperkenalkan Salahuddin dengan Nuruddin Zanky penguasa damaskus. Salahuddin lalu menyertai pamannya, Asasuddin Syirkuh, melakukan Ekspedisi militer ke Mesir. Setelah imaduddin merebut wilayah balbek, Lebanon Tahun 534 H/ 1139 M, Najamuddin Ayyub menjadi Gubernur balbek dan kepercayaan raja Syiria Nuruddin Mahmud, demkian pula Syirkuh, komandan perang Syiria yang mengalahkan tentara salib di Suriah dan Mesir.

Selama di Balbek, Salahuddin muda menekuni teknik perang, strategi politik. Ia belajar ilmu Kemiliteran dari Syirkuh, panglima perang turki Seljuk. Sejak usia belasan tahun Salahuddin mendampingi ayahnya melawan tentara salib dan menumpas para penentang sultan Nuruddin Mahmud. Ketika Nuruddin merebut kota Damaskus tahun 549 H/1154 M, ayah beranak telah menunjukkan loyalitas tinggi pada pemimpinnya. Salahuddin juga Mempelajari teologi Sunni di istana Nuruddin selama 10 tahun. Tahun 1169 Salahuddin diangkat menjadi seorang wazir (konsekor). Salahuddin mengemban tugas mempertahankan Mesir dari serbuan Kerajaan Yerussalem pimpinan Amalrik I, ditengah perlawanan anak-anak khalifah yang menginginkan pososinya. Sebagai pemimpin prajurit asing Syiria, Salahuddin tak memiliki kontrol atas prajurit Syia'ah, Mesir, pimpinan Khalifah Lemah,  Al-Adid. Setelah Khalifah wafat, sebelum Shalat jum'at, September 1171, Salahuddin diangkat menjadi Imam dengan nama Al-mustadi oleh Khalifah Abbasid di Baghdad, dengan kewenangan ini, garis keturunan Khalifah tak terlalu menjadi persoalan lagi. Salauddin disebut Waliullah, teman Allah bagi Muslim Sunni.

Selama menjadi wakil resmi Nuruddin di Mesir, Salahuddin merevitalisasi perekonomian Mesir, mengorganisir ulang kekuatan militer, sembari mengikuti nasihat ayahnya untuk menghindari  konflik apapun dengan Nuruddin tuannya yang resmi. Sesudah ia menjadi pemimpin asli mesir. Dia menunggu sampai kematian Nuruddin sebelum memulai beberapa tindakan militer serius. Pertama melawan wilayah muslim yang lebih kecil, lalu mengarahkan mereka melawan para prajurit salib. Dengan meninggalnya Nuruddin (1174) dia menerima gelar sultan di mesir. Disa dia memproklamasikan kemerdekaan dari kaum seljuk, dia terbukti sebagai penemu dari dinasti Ayyubiyah dan mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir. Dia memperlebar kekuasaannya sampai kesebelah barat di Magreb, dan ketika pamannya pergi ke Nil untuk mendamaikan beberapa pemberontakan dari bekas pendukung Fathimiyah, dia lalu melanjutkan ke laut merah untuk menaklukkan Yaman. Sejak itu Asasuddin, pamannya diangkat menjadi Perdana menteri Khalifah Fathimiyah. Setelah pamannya meninggal, jabatan Pm dipercayakan Khalifah kepada Shalahuddin Al-Ayyubi.

Salahuddin Al-ayyubi berhasil mematahkan serangan tentara salib dan pasukan Romawi Bizantyum yang melancarkan perang salib kedua terhadap Mesir. Sultan Nuruddin memerintahkan Salahuddin mengambil kekuasaan dari tangan khalifah Fathimiyah dan mengembalikan kepada Khalifah  Abbasiyah di Baghdad Mulai Tahun 567 H/1171 ( september). Setelah Khalifah Al-adid, khalifah Fathimiyah terakhir meniggal maka kekuasaanMesir sepenuhnya di tangan Salahuddin Al-ayyubi.

Sultan Nuruddin meninggal  tahun 659 H/1174 M, Damaskus diserahkan kepada puteranya yang masih kecil sultan Salih Ismail didampingi seorang wali. Terjadilah perebutan kekuasaan diantara putera-putera Nuruddin dan wilayah kekuasaan Nuruddin menjadi trpecah-pecah. Salahuddin pergi membereskan keadaan, tetapi ia mendapat perlawanan dari pengikut Nuruddin yg tidak menginginkan persatuan. Akhirnya Salahuddin melawannya dan menyatakan diri sebagai Raja untuk Wilayah Mesir dan Syam pada tahun 571 H/1176 M dan berhasil memperluas wilayahnya hingga Mousul, Iraq utara.

PERANG HATTIN MEMBEBASKAN YERUSSALEM
Paus urbanus II pada 27 November 1095 di Dewan clemont, menggerakkan lebih dari 100.000 orang Eropa bergerak ke Palestina untuk memerdekakan tanah suci dari orang islam dan mecari kekayaan yangbesar dari timur. Dipicu dari pembakaran gereja kristen terbesar di Yerussalem oleh Al-Hakim, penguasa Mesir abad 11. tindakan ceroboh yang menyimpang dari pakem islam, waktu itu banyak perampasan dan pembantaian di sepanjang perjalanan tentara salib sebelum mencapai Yerussalem tahun 1099. kota ini jatuh setelah pengepungan hampir 5 minggu. Warga yahudi digiring ke sinagog untuk dibakar. Hanya tersisa 4 orang yahudi setelah pembantaian sadis pasukan salib. Semua orang yang mereka temui, pria maupun wanita, mereka bunuh. Tumpukan kepala, tangan dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Pedamaian dan ketertiban kota Palestina, yang sudah berlangsung semenjak Khalifah Umar, berakhir dengan pembantaian mengerikan. 20.000 tentara perang salib yang tinggal lalu membangun kerajaan katolik yang terbentang dari palestina hingga Antaqiyah, beribukota di Yerussalem. Crack des Cevalier, benteng istana mereka.

Perang pertama yang dipimpin Salahuddin, melawan Almarik I, Raja Yerussalem. Kedua perang melawan Baldwin IV (putera Almarik I) yang pernahdi filmkan tahun 2005 dengan judul "Kingdom of Heaven" dan di bintangi aktor terkenal suriah, Ghassan Massoud sebagai Salahuddin. Salahuddin sempat mundur dari pertempuran Montgisard melawan raja Yerussalem. Raynald dari Chaltillon penguasabenteng karak / Crack, pemimpin ksatria templar, memprovokasi muslim dengan mengganggu perdagangan dan jalur jama'ah Haji di Laut Merah, mengancam menyarang Mekah dan Madinah. Salahuddin segera mengumpulkan seluruh kerajaan Islam dibawah benderanya untuk mengalahkan tentara salib. Menjelang serbuan, Salahuddin memberi kesempatan penguasa Kristen di kota Palestina menyiapkan diri agar mereka bisa melawan pasukannya dengan terhormat. Lalu pecahlah perang Hattin yang dimenangkan pasukan muslim. Salahuddin menghukum mati Raynald dan menangkap rajanya, Guy de Lusignan. Tiga bulan setelah perang Hattin, dihari Mi'rajnya Rasulullah. Salahuddin baru masuk Yerussalem, membebaskannya dari 88 tahun pendudukan tentara salib. Salahuddin memerintahkan umat katolik meninggalkan Yerussalem. Umat nasrani ortodoks, non tentara salib, dibiarkan tinggal dan beribadah sesuai keyakinan mereka. Kompleks Al-haram asy-syarif oleh jenderal yang di barat dikenal sebagai saladin dijadikan tempat ibadah umat Muslim. Salahuddin kemudian membangun sekolah, Rumah sakit, merestorasi Masjid Al- aqsa dan kubah batu.

Berikutnya Salahuddin melawan Baldwin V, sampai kota Tiberias, Nasirah, Gaza, Hebron, Yerussalem, Bethlehem, Busniayah, Gunung Zaitun jatuh ketangan Salahuddin, tahun 1187. Meski 70 ribu Muslim Palestina Tewas dibunuh tentara salib hingga banjir darah (1099 M), Salahuddin todak membalas dendam, ia tahu membunuh karena marah adalah dosa. Dalam perang, etika kemanusiaan tetap dijunjung tinggi. Penduduk dan bekas penguasa Yerussalem yang menyerah diperlakukan dengan santun. Sungguh mulia hatinya.

"Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (ketaatan) itu semata-mata milik Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zalim". ( Al-Qur an Surat      ayat : 193)

" Bulan haram dengan Bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishash. Oleh sebab itu, barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangan terhadapmu. Betaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa, Allah beserta orang-orang yang bertaqwa" ( QS:      Ayat:192)

Berbeda dengan tentara salib. Salahuddin memperlakukan warga Yerussalem  dengan baik sesuai ajaran Islam yang murni. Tidak dendam untuk membalas pembantaian. Ia menghentikan pembunuhan dan menunjukkan kasih sayang pada kaum nasrani lebih baik dibanding pemimpin mereka sendiri.

PAHLAWAN PERANG MENANGIS
Sejak 2 Oktober 1187 sampai 800 tahun berikutnya Yerussalem tetap menjadi kota Muslim. Salahuddin menaklukkan kota tersebut menurut ajaran Islam yang murni. Tak seorang kristen pun yang dibunuh. Tak ada perampasan. Jumlah tebusan sangat rendah. Salahuddin menangis tersedu-sedu melihat keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur. Tentara salib telah medapat sukses sementara dengan menguasai sebagian besar daerah Syiria dan Palestina termasuk Kota suci Yerussalem,  Tetapi kemenangan mereka itu telah disusul dengan keganasan dan pembunuhan terhadap kaum Muslimin yang tak bersalah yang melebihi kekejaman Jengis Khan dan Hulagu Khan. Ahli sejarah Inggris kenamaan John Stuart Mill menjelaskan dalam bukunya tentang pembunuhan-pembunuhan massal penduduk Muslim pada waktu jatuhnya kota Antioch. Mill menulis : "Keluruhan usia lanjut, ketidakberdayaan anak-anak dan kelemahan kaum wanita tidak dihiraukan sama sekali oleh tentara salib yang fanatik itu. Rumah kediaman tidak diakui sebagai tempat berlindung dan pandangan sebuah masjid merupakan pembangkit nafsu angkara untuk melakukan kekejaman. Tentara salib menghancurleburkan kota-kota Syria, membunuh penduduknya dengan tangan dingin, dan membakar habis perbendaharaan kesenian dan ilmu pengetahuan yang sangat berharga, termasuk Kutub Khanah (Perpustakaan Tripolis yang termasyhur itu). "jalan-jalan raya penuh dengan aliran darah sehingga keganasan itu kehabisan tenaga". Kata Stuart Mill. Mereka yang cantik disisihkan untuk pasaran budak belian di Antioch, tetapi yang tua dan yang lemah dikorbankan diatas panggung pembunuhan.

Namun kekejaman tentara salib laknatillah itu tidak dibalas oleh Salahuddin, Ia membebaskan banyak dari mereka, sampai kebendaharaan negara prihatin. Para pemimpin muslim tersinggung melihat orang kaya kristen melarikan diri dengan kekayaan mereka, Tanpa menebus tawanan. Uskup Heraclius menebus dirinya sepuluh dinar dan mendapat pengawal pribadi selama pejalanan ke Tyre, satu-satunya kota yang belum takluk.

Jatuhnya Yerussalem memicu perang salib ketiga. Raja Inggris Richard Lionheart berangkat kepertempuran Arsuf, Richard mengalami cedera dalam pertempuran dengan kaum muslimin. Salahuddin menawarkan pengobatan dari ilmu kedoktoran kaum Muslimin yang telah maju dan dipercaya. Salahuddin mengiriminya buah pir yang segar, dingin dalam salju dan seorang dokter. Tanggal 1 september 1192, Salahuddin dan Richard menyepakati perjanjian Ramla. Yerussalem tetap dikuasai Muslim dan terbuka bagi peziarah Kristen. Setelah itu pesta diadakan dengan berbagai pertandingan, orang Eropa sampai takjub bagaimana islam bisa melahirkan orang sebaik itu. Raja Rchard pun kembali ke Inggris. Setelah Yerussalem, tentara salib melanjutkan perbuatan tak manusiawinya dan pasukan Muslim meneruskan keadilannya dikota-kota Palestina lainnya. Raja Richard I yang dijuluki Si hati singa, merampas Kastil Acre,  Membantai ratusan kaum muslimin,  menghukum mati lebih dari 3000 Muslim, mayoritas wanita dan anak-anak disana. Mayat mereka dan penggalan kepala ditumpuk di bawah panggung.

Setelah sebagian besar wilayah islam kembali diraihnya, Salahuddin memindahkan pusat pemerintahannya di Kairo, Mesir ke Damaskus, Syria. Setelah 17 tahun menjadi penguasa Mesir dan Syria, Salahuddin Al-Ayyubi, sang pahlawan yang tak akan terlupankan jasanya itu meninggal dunia di Damaskus dalam Usia 57 tahun (4 Maret 1193). Mengharukan ketika peti hartanya dibuka, ternyata tak cukup untuk biaya pemakaman. Hartanya selama ini di bagikanbagi yang membutuhkan.

Sebuah pemerintahan yang dibangun diatas dasar-dasar Islam memungkinkan pemeluk keyakinan berbeda hidup damai. Menurut Islam, perang hanya sarana mempertahankan diri. Kehidupan orang-orang tak berdosa dan aturan hukum harus dilindungi. Tapi tidak demikian bagi Zionis israel yang menduduki tanah palestina hari ini. Ekstrimis Yahudi itu meneruskan mentalitas penjajah Eropa abad 19. mereka percaya, negara industri barat berhak menjajah bangsa terbelakang sebagai proses seleksi alam. Darwinisme sosial. Inggris menjajah India, Afrika Selatan dan Mesir. Prancis Menjajah Indocina, Afrika Utara dan Guyana. Terinspirasi pendukungnya, para Zionis terus merampas wilayah teritori Palestina hingga tak tersisa.

Khalifah Umar Bin Khattab, Pemimpin muslim yang pernah menaklukkan imperium Romawi, Mesir dan Persia, menerima kunci Baitul Maqdis dari uskup Severinus tahun 15 H/636 M, menyebutkan Tanah Palestina Berstatus Wakaf yang tak Boleh dijual atau diserahkan pada Nonmuslim. Tugas bagi generasi Muslim masa kini untuk merebut tanah Palestina kembali ke pangkuan Muslim. Makam Sultan Salahuddin diruang yang berukuran 4 x 6 meter di Mesjid Umayyah, Damaskus yang berumur lebih dari 12 abad, tampak kelabu, pudar dan berdebu. Di kampung Akhirat pahlawan ini menanti dengan hati yang berdebar; siapa gerangan yang terpanggil untuk menghentikan tragedi berdarah yang tengan dialami entitas terakhir penjaga Masjid Aqsha dan mengembalikan kedamaian Palestina selama 1280 tahun lagi.

0 komentar

Poskan Komentar