Kamis, 20 Januari 2011

Khalifah Umar Bin Abdul 'Aziz Sang Teladan (2)

Kedudukannya dalam ilmu.
Para ahli yang menulis biografi Umar bin Abdul Aziz sepakat bahwa beliau termasuk salah satu Imam (panutan dalam ilmu pengetahuan) di zamannya, sebagaimana ditegaskan Malik dan Sufyan bin Uyainah[1]. Di samping itu beliau juga digelari al-’Allamah (yang luas ilmunya), al-Mujtahid (ahli Ijtihad[2]) dan al-Hafidz (panutan dalam ilmu hadits)[3].

Suatu hari di umurnya yang masih ‘seumur jagung’ beliau pernah mengunjungi Abdullah bin Umar bin Khattab. Sepulangnya dari kunjungan tersebut beliau pun berkata kepada ibunya, “Ibu! Aku ingin sekali menjadi seperti kakek Abdullah bin Umar”, hal itu beliau katakan berulang-ulang.[4].

Mujahid pernah bercerita: “Dulu kami pernah mendatangi Umar bin Abdul Aziz karena ingin mengajarinya beberapa hal, namun justru kamilah yang diajarinya”[5]. Maemun bin Mihran juga pernah berkomentar: “Di hadapan Umar bin Abdul Aziz, para ulama hanyalah bagaikan murid”[6]. Sedangkan Adz-Dzahabi mengkategorikan beliau dari aspek keadilan seperti Umar bin Khattab, dari aspek kezuhudan seperti Hasan Bashri dan dari aspek keilmuan seperti Zuhri[7].

Bahkan para ulama lain pun tidak segan-segan berhujjah dengan perkataan dan perbuatan beliau. Di antaranya: Laits bin Said ketika menulis surat untuk Malik bin Anas menyebutkan nama beliau berkali-kali untuk menguatkan pendapatnya sendiri dalam beberapa persoalan.[8]

Khalifah Umar Bin Abdul 'Aziz Sang Teladan (1)

Kawan.., membaca kisah ulama atau pemimpin yang adil dan shalih ini sangat mengagumkan. Ulama ataupun pemimpin besar yang adil dan shalih biasanya terlahir dari keluarga yang shalih, memperhatikan pendidikan dan berakhlaq mulia. Keluarga, terkusus sang ibu sebagai madrasah awal dari sang anak sangatlah berperan besar dalam menempa akhlaq dan kepribadian sang anak hingga tumbuh dewasa kelak. Demikian juga pendahulu-pendahulunya yang shalih, dikenal akan keilmuan dan ketinggian akhlaqnya akan menjadi cambukan bagi sang anak untuk menjadikan mereka sebagai tauladan. Begitulah halnya dengan khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, yang masih punya garis keturunan dengan shahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah ketiga.

Berikut merupakan biografi khalifah Umar bin Abdul Aziz yang telah membuat susah bagi generasi selanjutnya untuk meneladani dan mengunggulinya.
Di tengah keheningan malam, di bawah atap rumah yang tidak seberapa bagusnya, sayup-sayup terdengar suara seorang perempuan penjual susu kepada anak gadisnya, “Campurlah susu ini dengan air!”, katanya. Serta merta sang anak pun menolak seraya bertanya: “Apakah ibu tidak takut kalau hal ini diketahui khalifah Umar bin Khattab? “Umar tidak akan tahu”, jawab ibunya spontan. Dengan penuh keyakinan gadis itu pun menimpali, “Kalau pun Umar memang tidak mengetahuinya, apakah berarti Tuhan yang menciptakan Umar juga tidak mengetahuinya?”. Sang ibu pun terperanjat lalu terdiam seribu bahasa.

Di sisi bumi yang lain, di bawah remang-remang cahaya rembulan, di samping dinding rumah penjual susu, berdirilah seseorang yang sedari awal mendengarkan percakapan itu melalui celah-celah di dinding rumah, seseorang yang sangat berwibawa, Umar bin Khattab sang khalifah.

Jumat, 14 Januari 2011

Indahnya Pengadilan Islam

Dimasa kejayaan Kekhilafahan Islam keadilan benar-benar ditegakkan, pengadilan tidak membedakan antara keluarga pejabat pemerintah (Khilafah) dan rakyat jelata, antara bangsawan dan rakyat biasa, antara sikaya dan simiskin, bahkan Amirul Mukminin (khalifah)-pun bisa kalah dipengadilan ketika berhadapan dengan rakyat yang dipimpinnya. Para Qadhi (hakim) lebih takut kepada Allah swt daripada kepada penguasa.

Tidak seperti yang terjadi saat ini, pejabat yang telah nyata-nyata terlibat korupsi puluhan milyar masih bebas berkeliaran diluar penjara dan masih aktif menjabat. Bagaimana mungkin ia akan memberikan keputusan yang tepat, jika dirinya bermasalah.
Seorang pejabat yang terlibat korupsi, maka ia tidak akan bisa bersikap tegas terhadap kasus-kasus korupsi karena seperti kata pepatah: “Seperti menepuk air didulang”. Artinya, jika ia bersikap tegas maka akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Sedangkan Ustdaz yang memperjuangkan syari’at Islam, dalam keadaan lemah diseret dari tempat tidurnya di Rumah Sakit dan dijebloskan kepenjara.

Kamis, 13 Januari 2011

Usia Yang Bermanfaat

"Terkadang usia panjang masanya, tetapi sedikit manfaatnya.
Terkadang usia itu pendek masanya, akan tetapi banyak manfaatnya."

Ada pepatah yang berbunyi, jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup
banyak dirasa. Benar apabila manusia suka bepergian, ia akan banyak
memperoleh pengalaman, pemandangan dan penghayatan. Apabila panjang usianya
dan lama hidupnya, berarti ia telah menikmati senang dan susahnya hidup
pahit, dan manisnya perlajanan. Semua perjalanan hidup manusia akan memberi
makna tersendiri baginya. Ia barulah berarti apabila usia yang ditempuh
dalam hidupnya memberi manfaat baginya.

Usia itu sebenarnya bukan karena panjang atau pendeknya, akan tetapi
manfaat dan mudaratnya. Sebagus bagus usia ialah usia yang banyak manfaatnya
bagi manusia. Rosulullah Saw bersabda, "Sebaik baik manusia ialah orang yang
panjang umurnya, dan bagus amalnya, dan sejelek jelek manusia, adalah orang
yang panjang umurnya akan tetapi rusak amalnya."

Kisah nyata seorang Pemuda Arab yang menimba Ilmu di Amerika (sebuah hadiah kecil)

Ada seorang pemuda arab yang baru saja me-nyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu

mendalaminya. Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja. Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan

Mengenang Shalahuddin Al- Ayyubi Sang Pembebas Al-Aqsha

Sesudah berhasil membebaskan Mesir dari dinasti Fatimiyah yang menjadi simbol kekuasaan Syiah yang dilakukan oleh Nuruddin az-Zanky, tahun 564 Hijriyah/1169 Masehi, terus melanjutkan usaha membebaskan negeri-negeri Muslim dari cengkeraman pasukan Salib. Termasuk ‘billadus’ Syam, yang di dalamnya terdapat Al-Aqsha.

Jatuhnya Mesir ke tangan Nuruddin dan panglimanya Shalahuddin al-Ayyabui, bukan hanya menghancurkan kekuassaan dinasti Syiah, tetapi ikut menggentarkan pasukan Salib yang sudah mendarat di Mesir. Para penguasa Salib di Eropa yang melihat kejatuhan Mesir, mereka semakin takut. Maka, para penguasa Salib di Eropa Barat, mempersiapkan pasukan yang lebih besar lagi, yang tujuannya untuk menghadapi pasukan Muslim, yang sudah menguasai Mesir, dan merambah ke ‘billadus’ Syam.

Sayangnya, di tahun 569 Hijriyah/1169 Masehi, mujahid besar, yang berhasil membebaskan dari kaum ‘zindiq’ yang dipimpin dinasti Fatimiyah itu, wafat. Nuruddin az-Zanky wafat. Selajutnya, kepemimpin di medan jihad, yang selama ini dipegang oleh Nuruddin digantikan

Sabtu, 08 Januari 2011

Tabiat si Yahudi

Wahb bin Munabah bercerita,

Suatu ketika Nabi Isa as pergi mengembara diatas bumi ditemani oleh seorang Yahudi.
Nabi Isa membawa bekal sepotong roti dan si Yahudi membawa dua potong roti. Maka Isa as berkata kepada si Yahudi, “Bolehkah aku ikut makan rotimu?” Si Yahudi menjawab, “Tentu.”. Tatkala si Yahudi mengetahui bahwa Isa as hanya membawa sepotong roti, ia menyesal telah mengiyakannya. Maka pada saat Isa as menunaikan shalat, ia pergi dan memakan sepotong roti miliknya. Selesai shalat, kedua orang itu mengeluarkan bekal makanannya. Nabi Isa as kemudian bertanya kepada temannya, “Dimana sepotong rotimu yang lain?” Si Yahudi menjawab, “Ternyata aku hanya membawa sepotong roti saja.” Maka kedua orang itu makan rotinya masing-masing.
Kemudian kedua orang itu melanjutkan perjalanannya. Ketika mereka sampai didekat sebatang pohon, Nabi Isa as berkata kepada temannya, “Wahai kawanku, sebaiknya kita

Suratan hati kepada saudari Fillah....di Negeri Pertiwi

Teruntuk putri muslimah putri islami bagi dien (agama) ini. “semoga Allah SWT senantiasa menjaga kesucian harga dirimu di tengah dahsyatnya finah dan ujian.”.

Ukhti muslimah, Putri islami di negeri pertiwi…


Malam ini ada gelisah yang menyusup kedalam jiwaku.Aku terbangun dengan ikatan -ikatan kecemasan.Mataku berembun sebagaimana kaca jendela kamarku yang setiap malam berbasah embun musim dingin yang begitu dahsyat.Tak ada suara selain teriakan – teriakan batin yang menggema di liang telingaku ketika teringat keadaanmu di negeri pertiwi yang dirudung fitnah begitu besar.

Putri islami dinegeri pertiwi …

Kuambil pena setelah kulantunkan untaian doa. Semoga lantunan pena kegelisahan ini membuat jiwa-jiwamu tersadar akan apa yang sebenarnya kami rasakan. Hingga pena ini tergerak untuk menasihatkan.

Rabu, 05 Januari 2011

Ipar mantan PM Inggris Tony Blair, Laura Booth Masuk Islam dan menulis Surat Terbuka

Belum sebulan menjadi muallaf, ipar mantan perdana menteri Inggris Tony Blair, Laura Booth, kembali menjadi bahan berita. Kali ini dia disebut menganut Islam Syiah garis Keras. Tudingan itu dilatari perjalannya ke Iran yang mengantarkannya menjadi Muslim.

Publikasi lain menyebut, ia menjadi muslim hanya mencari popularitas. "ia ingin diperhatikan", demikian sebahagian orang mengomentari.

Alih - alih menanggapi semua tudingan, ia malah membuat surat terbuka tentang rasa syukurnya menjadi seorang muslim. Suratnya itu dimuat diharian Daily Mail Awal pekan ini.
Berikut ini bagian dua dari petikan suratnya:

Bagaimana tentang perjalanan spiritual? Itu tak pernah terjadi pada saya. Meskipun saya suka berdoa dan sejak kecil sudah mendengar cerita tentang yesus dan para nabi sebelumnya. Saya dibesarkan dalam keluarga yang sangat sekuler.

Senin, 03 Januari 2011

Keteladanan Dari Ahlul Bait Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

Sahabat yang mulia Ali ibn Abi Thalib Karramallahu Wajhah hendak melamar Putri Rasulullah yang mulia Fathimah, beliau menjumpai Rasulullah, saat ia akan masuk ke rumah Rasulullah ia merasa malu, Rasulullah memahami apa yang dimaksud oleh Ali, maka beliau berkata: ''Sepertinya kamu menginginkan Fathimah ''

Ali menjawab :'' Benar ya Rasulallah'' Rasulullah: ''Apakah kamu membawa sesuatu?''. (maksudnya mahar)
Ali menjawab: ''Demi Allah aku tidak punya apa-apa''.
Ali memang tidak punya apa-apa tapi ia punya iman, tauhid, ia punya Allah yang selalu disembahnya.
Rasulullah berkata:'' Mana baju besi huthamiyyah-Mu?''
Maka Ali menyerahkannya dalam kondisi sudah patah-patah yang nilainya tidak sampai 2 dirham, maka Rasul yang mulia menikahkannya dengan mahar itu.

Muhammad Iqbal, seorang penyair, melukiskan dalam bait-bait syairnya :
Putri siapakah dia? Istri siapakah dia? Ibu siapakah dia?
Siapakah manusia yang dapat menyamai derajatnya?

Israel Memang Telah Berencana Lakukan Perang Besar pada 2009 Lalu

Panglima militer Israel mengatakan kepada delegasi Kongres AS pada akhir tahun 2009 bahwa dirinya sedang mempersiapkan perang besar di Timur Tengah, mungkin terhadap Hamas atau Hizbullah, kata kabel diplomatik AS yang bocor pada hari Ahad kemarin (2/1).
"Saya sedang mempersiapkan tentara Israel untuk perang skala besar, karena lebih mudah untuk skala bawah untuk operasi yang lebih kecil daripada melakukan yang sebaliknya," Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi sebagaimana dikutip dalam kabel dari kedutaan besar AS di Tel Aviv.

Dokumen itu tertanggal 15 November 2009, dikutip oleh harian Aftenposten berbasis di Oslo Norwegia.
"Ancaman roket terhadap Israel lebih serius dari sebelumnya. Itulah mengapa Israel menempatkan penekanan pada pertahanan roket," kata Ashkenazi kepada delegasi AS yang dipimpin oleh anggota Partai Demokrat Ike Skelton, kabel diplomatik menunjukkan.