Rabu, 05 Januari 2011

Ipar mantan PM Inggris Tony Blair, Laura Booth Masuk Islam dan menulis Surat Terbuka

Belum sebulan menjadi muallaf, ipar mantan perdana menteri Inggris Tony Blair, Laura Booth, kembali menjadi bahan berita. Kali ini dia disebut menganut Islam Syiah garis Keras. Tudingan itu dilatari perjalannya ke Iran yang mengantarkannya menjadi Muslim.

Publikasi lain menyebut, ia menjadi muslim hanya mencari popularitas. "ia ingin diperhatikan", demikian sebahagian orang mengomentari.

Alih - alih menanggapi semua tudingan, ia malah membuat surat terbuka tentang rasa syukurnya menjadi seorang muslim. Suratnya itu dimuat diharian Daily Mail Awal pekan ini.
Berikut ini bagian dua dari petikan suratnya:

Bagaimana tentang perjalanan spiritual? Itu tak pernah terjadi pada saya. Meskipun saya suka berdoa dan sejak kecil sudah mendengar cerita tentang yesus dan para nabi sebelumnya. Saya dibesarkan dalam keluarga yang sangat sekuler.
Mungkin apresiasi saya tentang budaya islam, terutama pada wanita muslim, yang menarik saya mengapresiasi Islam. Perempuan Islam yang saya lihat di inggris adalah yang menutup seluruh tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki, kadang berjalan dibelakang suami mereka, dengan anak - anak berbaju panjang disekitar mereka. Ini sungguh kontras dengan kondisi wanita profesional eropa yang pada umumnya sangat memperhatikan penampilannya. Saya, misalnya sangat bangga dengan rambut pirang saya, dan ya, belaham dada saya. Ini seolah menjadi  jualan utama kami,

Saat bekerja didunia Broadcast televisi, betapa hal itu makin jelas terasa; presenter wanita menghabiskan waktu hingga satu jam utk merias wajah dan penampilan mereka, hanya untuk membahas satu topik "serius" yang memakan waktu tak lebih dari 15 menit. Apakah ini sebagai bentuk Liberation?
Saya mulai bertanya - tanya seberapa banyak penghormatan bagi gadis - gadis dan perempuan dalam masyarakat bebas kita.

Pada tahun 2007 saya pergi ke Lebanon. Saya menghabiskan waktu empat hari bersama para mahasiswi disana, sebagian dari mereka menggunakan cadar, mereka tetap menawan mandiri, dan bebas berpendapat. Mereka tidak semua gadis pemalu, atau mereka akan dipaksa segera untuk menikah, seperti yang kita dengar dibarat. Suatu waktu mereka menemani saya mewancarai seorang syaikh yang disebut - sebut dekat dn milisi Hizbullah. Saya sangat terkejut tentang bagaimana dia memperlakukan para gadis yang menemani saya ini. Saat Syekh Nabil -- yang menggunakan surban dan jubah cokelat-- berbicara tentang topik yang menantang tentang pertukaran tawanan, mereka tergelitik untuk angkat bicara. Mereka bebas bertanya dan menyatakan apapun, termasuk angkat tangan untuk menyela sang Syekh yang tengah berbicara.

Ada hal lain yang berubah kemudian. Semakin banyak waktu saya habiskan di timur tengah, semakin seriing saya minta diatar kemesjid. Hanya untuk kepentingan pesiar, begitu selalu saya meyakinkan pada diri saya, walaupun faktanya, saya mendapatkan lebih dari sekedar wisata belaka.

Bebas dari anekan patung dan bangku, saya melihat mereka duduk begitu saja dengan anak - anak bermain disekitarnya, beberapa memakan bekal mereka, dan wanita tua duduk diatas kursi roda mereka membaca Al-Qur-an. Mereka membawa kehidupan mereka ke masjid, dan membawa masjid kedalam rumah - rumah mereka.

Dan tibalah suatu malam saat saya mengunjungi kota Qom, dibawah kubah emas yang disebut Fatimah Mesumah(Fatimah sang teladan), sama seperti perempuan lainnya disana, tiba  - tiba saya bergumam nama Allah beberapa kali, ketika memegang pagar makam Fatimah. Ketika saya duduk sebuah kenikmatan spiritual menyergap saya, bukan kenikmatan yang seolah - olah mengangkat kita dari tanah, tapi kenikmatan yang memberi kedamaian penuh. Saya duduk disana untuk waktu yang lama. Seorang wanita muda disamping saya membisikkan, "sesuatu keajaiban terjadi pada  anda".

Ya, saya tahu saya bukan lagi "turis dalam Islam". Tapi pengembara di dalam umat, bagian dari komunitas muslim dan terkait dengan seluruh muslimin.
Untuk pertama kalinya saya merasakan ingin lari dari situasi ini, karena beberapa alasan. Apakah betul saya sudah siap berpindah agama? Apa yang akan ada dalam pikiran teman - teman dan keluarga kalau saya menjadi muslim? Apakah saya siap untuk  mengubah banyak hal dalam perilaku keseharian saya?

Dan terjadilah hal yang benar - benar aneh. Saya tidak mera khawatir tentang hal-hal itu. Karena entah bagaimana menjadi seorang muslim sangat mudah - meskipun masalah yang akan saya hadapi sangat berbeda, tentu saja. Untuk memulai, Islam menuntut banyak belajar, namun saya ibu dua anak dan bekerja penuh waktu. Anda diharapkan untuk membaca Al-qur-an dari awal hingga akhir, ditambah dengan bertemu imam dan segala macam aturan bagi orang yang tercerahkan. Kebanyakan orang akan menghabiskan berbulan - bulan bahkan bertaun - tahun sebelum menyatakan keislamannya. Saya bisa melewatinya.

Dukutip dari berbagai sumber

0 komentar

Posting Komentar