Kamis, 13 Januari 2011

Usia Yang Bermanfaat

"Terkadang usia panjang masanya, tetapi sedikit manfaatnya.
Terkadang usia itu pendek masanya, akan tetapi banyak manfaatnya."

Ada pepatah yang berbunyi, jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup
banyak dirasa. Benar apabila manusia suka bepergian, ia akan banyak
memperoleh pengalaman, pemandangan dan penghayatan. Apabila panjang usianya
dan lama hidupnya, berarti ia telah menikmati senang dan susahnya hidup
pahit, dan manisnya perlajanan. Semua perjalanan hidup manusia akan memberi
makna tersendiri baginya. Ia barulah berarti apabila usia yang ditempuh
dalam hidupnya memberi manfaat baginya.

Usia itu sebenarnya bukan karena panjang atau pendeknya, akan tetapi
manfaat dan mudaratnya. Sebagus bagus usia ialah usia yang banyak manfaatnya
bagi manusia. Rosulullah Saw bersabda, "Sebaik baik manusia ialah orang yang
panjang umurnya, dan bagus amalnya, dan sejelek jelek manusia, adalah orang
yang panjang umurnya akan tetapi rusak amalnya."

Syekh Ahmad Ataillah (pengarang kitab Al-Hikam) menegaskan pula :
"Siapa yang diberkati umurnya, dalam masa singkat dari usianya, ia akan
mencapai karunia Allah, yang tidak dapat dihitung dengan kata kata, dan tak
dapat dikejar dengan isyarat."

Yang dicari oleh seorang muslim yang sholeh adalah barokahnya usia.
Yang dimaksud usia ber-barokah adalah usia yang selalu membawa dan mengajak
kepada kemanfaatan dunia dan akhirat. Umur yang barokah ini, selalu diberi
kesempatan oleh Allah menjalankan kebaikan kebaikan seperti yang dicontohkan
oleh Nabi Muhammad Saw. Sebab, apabila umur itu mendapat barokah, tidak ada
waktu yang tersia sia dalam hidup seorang hamba.

Hamba yang umurnya ber-barokah, ia selalu berada dalam situasi yang
sempat akan tetapi bergegas gegas. Sempat artinya selalu ada peluang,
bergegas gegas artinya cepat diamalkannya. Sehingga tidak terasa olehnya
usia yang dianugerahkan kepadanya, waktunya sangat singkat sebab kesempatan
kesempatan beribadah yang diberkati Allah kepadanya tidak mencukupi. Ia
bergegas gegas, agar waktu yang singkat itu, tidak hilang begitu saja karena
cepatnya perjalan usia.

Dengan demikian, maka usia yang panjang atau usia yang pendek, akan
memberi arti yang berguna bagi manusia, apabila dipergunakan untuk
mendapatkan ridho Allah. Seperti yang diucapkan oleh Abu Abbas Al Mursy :
"Alhamdulillah semua waktu waktu kami merupakan lailatul-qodar, artinya
semua waktu diisi dengan amal yang bermanfaat."

Jangan sampai waktu yang didapatkan dari usia, hanyalah ibarat air
yang disiramkan ke atas pasir yang panas. Airnya menguap, pasirnya tidak
basah. Usia yang hilang begitu saja dari waktu yang dilalui, akan
mengecewakan si pemilik usia itu sendiri pada hari kiamat. Sebab waktu waktu
yang dianugerahkan kepada manusia dinamakan bermanfaat dan barokah apabila
dipergunakan untuk memperbanyak amal ibadah, memohon ampun atas bermacam
macam kesalahan dan dosa, serta bertobat dengan taubatan nasuha. Syekh Ahmad
Ataillah mengatakan :
"Kekecewaan dari semua kekecewaan, adalah ketika kalian berkesempatan,
kalian tidak menghadap kepada Allah, karena sedang ada sedikit halangan,
kalian tidak juga mendatangi Allah."

Ungkapan Syekh Ataillah ini mengingatkan kita, jangan sampai
kesempatan dari usia, di waktu lapang ataupun sempit, hendaklah pandai
pandai dimanfaatkan untuk Allah dan datang menghadap memohon hidayah dan
inayah, memohon ampun serta bertobat. "Bergegas gegaslah kamu dalam keadaan
ringan ataupun berat ..."(QS.At-Taubah :41)

Perjalanan yang panjang telah ditempuh manusia di alam dunia ini.
Banyak yang dialami oleh anak Adam dalam masalah duniawiyah, namun
pengalaman hidup itu barulah berarti bagi hidup dunia dan akhirat, apabila
dipersembahkan untuk Allah dan Rasul-Nya, dan untuk 'izzul Islam dan
Muslimin.

Memang kadang kadang manusia tidak mempergunakan kesempatan, atau
kesempatan yang ada disia siakan, sehingga kesempatan yang tersedia, hilang
begitu saja. Kesempatan yang dimaksud ialah kesempatan datang menghadap
Allah dalam ibadah rutin, atau kesempatan mengerjakan ibadah sunah lainnya,
yang sebenarnya tersedia, akan tetapi, manusia lalai dengan alasan kesibukan
duniawi, atau kesibukan perjuangan. Alasan alasan seperti itu sebenarnya
tidak perlu dikemukakan, karena Allah Ta'ala Maha Tahu tentang kemalasan dan
keengganan diri kita. Allah Ta'ala lebih tahu bahwa manusia lebih
mementingkan dirinya sendiri, hawa nafsunya sendiri, daripada ingin
mendapatkan ridho Allah dengan pertemuan pertemuan tertentu dengan Allah
dalam bentuk ibadah.

Memang merupakan suatu kekecewaan kelak di akhirat, di waktu seorang
hamba menghadap Allah Swt. Manusia waktu itu datang menerima apa yang telah
ia kerjakan di dunia. Masing masing datang dengan buah amal ibadahnya. Akan
tetapi ada diantara manusia hadir di mahkamah Allah Swt dengan hati kecewa.
Karena ia melihat orang lain datang kepada Allah dengan hati gembira
menunjukkan amal ibadahnya yang wajib dan sunah yang sangat banyak,
sedangkan ia datang dengan amal ibadah yang minim, yang tidak mampu
melepaskan dirinya dari adzab Allah. Atu amal ibadahnya pas pasan saja.

Ia kecewa, akan tetapi kekecewaan itu sudah tidak dapat ditebus
lagi. Waktu itu kesibukan dunia yang dikerjakannya tidak mampu menambah amal
ibadahnya. Harta dan segala macam yang diperolehnya dalam kesibukan dunia,
tidak ada satupun yang memberi nilai tambah bagi kebahagiaan akhirat yang
sudah habis di depannya. Seperti diterangkan Allah Ta'ala dalam firmannya,
"Pada hari itu tidak ada gunanya harta dan anak anak, kecuali yang datang
menghadap Allah dengan hati yang damai." (QS. Asy-syu'ara : 89).

Bagi hamba Allah yang benar benar tunduk dan patuh kepada-Nya dalam
segala hal, ia dalam hidupnya tidak menyia nyiakan waktu yang dianugerahkan
Allah untuk datang kepada-Nya dalam waktu waktu yang ditentukan, atau
melaksanakan ibadah ibadah sunah tanpa batas waktu dan sepanjang saat.

Agar seseorang hamba tidak tersia sia di akhirat, dan kecewa di
hadapan Allah, memanfaatkan saat saat kesempatan adalah sangat menguntung
dan utama.

Imam Hakim dan Baihaqi telah meriwayatkan dari Nabi Muhammad Saw. bahwa beliau bersabda sebagai berikut:
"Manfaatkanlah kesempatan yang lima, sebelum (datang) lima yang lainnya, yaitu: Masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Masa sehatmu sebelum datang sakitmu. Masa kayamu sebelum datang fakirmu. Masa hidupmu sebelum matimu. Dan masa senggangmu sebelum datang kesibukanmu."

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. QS 103.1

Narasumber : Buku "Mutumanikam dari kitab Al-Hikam"

Semoga bermanfaat buat saya dan reken rekan yang ibadahnya ikhlas semata
mata mencari ridho Allah.

Sumber : dari note Facebook seorang sahabat

0 komentar

Posting Komentar