Minggu, 27 Maret 2011

Mengenangmu Yaa Rasulullah

Mengenangmu yaa Rasulullah, selalu saja menyisakan syahdu dan biru di hati. Why? Itu karena rasa rindu yang membuncah terhadap sosok muliamu. Rasa yang wajar hadir di hati setiap insan yang mengetahui kisah hidupmu dan mengenal sepak terjang perjuanganmu. Karena bila tidak, bagaimana rasa rindu itu akan muncul bila diri tak pernah merasa kenal apalagi dekat terhadap pribadi agungmu itu?
Jarak hidup denganmu yaa Rasulullah, terbentang ribuan tahun lamanya. Tapi serasa engkau ada di sini, di hati ini sangat dekat dengan diri. How come? Itu karena kami berusaha meneladani akhlakmu dan mengikuti jejak sunnahmu. Rasa rindu itu muncul adalah buah dari rasa sebelumnya yang telah ada yaitu cinta. Tanpa cinta tak mungkin seseorang merasa rindu. Dan rasa inilah yang menjadi pendorong bagi diri untuk mengikuti apa yang menjadi kegemaranmu sekaligus menjauhi apa yang kau benci.

Rasulullah, nabi terakhir sepanjang zaman. Mulia akhlakmu menyisakan cerita indah ketika seorang anak yatim yang menangis di pinggir jalan kau angkat menjadi anak. Kaulah sosok ayah yang sangat mencintai anak-anaknya dan seorang kakek yang sangat sayang pada
cucu-cucunya. Satu hal lagi, pribadi suami yang sangat baik memperlakukan para istri-istrinya. Sungguh, teladan yang tak kan pernah habis tinta menuliskan kemuliaanmu.

Sebagai seorang pemimpin dan nabi, kau pun tak pernah mementingkan diri sendiri. Bahkan di akhir hayat, kaumasih saja memikirkan umatmu. “Ummati, ummati,” umatku, umatku. Ya…umat selalu ada dalam prioritas hidupmu. Bukan kematian yang ditakutkan, bukan pula sanak keluarga yang dipedulikan, tapi umat yang kau khawatirkan sepeninggal engkau menghadap-Nya. 

Mengenangmu yaa Rasulullah, adalah momen mengenang kemuliaan. Saat indah mengenang manisnya perjuangan, mengecap harumnya darah kesyahidan. Mulia ketika dunia adalah ibadah dalam segenap aspeknya, dan akhirat adalah tujuan sebenarnya dari perjalanan panjang bernama kehidupan. Mulia dengan kehormatan sebagai seorang muslim terjaga dan terhindar dari pemimpin zalim dan durjana.

Merindumu yaa Rasulullah, telah menyatu bersama pembuluh darah demi mengalirkan nutrisi kemuliaan dan kesyahidan sebagai tapak yang harus dilewati. Engkau sajalah suri-teladan yang tak kan pernah lekang dimakan zaman. Rindu sungguh penuh harap dapat bersua denganmu dan kau akui sebagai salah satu umatmu. Rasa rindu itu seringkali datang bersama dengan rasa takut, khawatir tak bisa berkumpul denganmu di jannah kelak.

Mengingat diri berlumur dosa, terasa kecil hati mempunyai mimpi bertemu dengan sosok indahmu itu. Tapi bukankah telah kau rumuskan sendiri bahwa seseorang itu bersama dengan yang dicintainya di akhirat kelak. Dan sungguh, saksikanlah bahwa hati ini begitu cinta denganmu. Bukan hati ini saja yang berikrar atas nama cinta, tapi perbuatan dan tingkah laku kami juga berupaya meneladani dirimu. Meskipun tertatih, kami tak pernah jemu untuk terus bangkit dan meniti jalan yang pernah engkau tempuh sebelumnya. Jalan kemuliaan dalam kehidupan, dan kesyahidan dalam menjemput ajal.
Sungguh yaa Rasulullah, kami mengenangmu dengan segenap cinta dan ketaatan. [riafariana/voa-islam.com]

0 komentar

Posting Komentar