Minggu, 11 Maret 2012

Valentine dan Maulid Nabi


Cerita...........

“When love beckons to you, follow him,
Though his ways are hard and steep.”
[Kahlil Gibran]

“Cinta derita segalanya. Pencinta yang paling menderita ialah mereka yang mencinta tanpa angan dan harapan.”
[Mushthafa Luthfi al-Manfaluthi]

…… Aku bukan pujangga. Tapi jiwa seolah menyodokku untuk segera menekan tuts-tuts labtop ini. Demi panggilan “cinta” aku ingin segera menuntaskan segala. Akan kulukis getaran jiwa dan gelombang pikirku dalam bingkai kata-kata. Ataukah dua festival cinta ini telah menggaung di relungku? Entahlah! ……
–intermezo–

Membincang Valentine bagiku sama saja mengingatkan pada peristiwa-peristiwa dulu yang kualami di masa sekolah—dengan sedikit mengecualikan masa sekolah dasar karena aku masih kosong soal cinta. Aku terbayang antusiasme guru-guruku di SMPI maupun MA membendung gejolak cinta dan kasmaran yang lagi mendera siswa mereka. Mendekati
tanggal “ajaib” 14 Februari, seketika membludak tempelan-tempelan di sekolah dengan tema yang sama tiap tahun: sejarah Valentine. Terkadang disertai tuntunan moral dan prejudice hukumnya: ia haram dengan titik sangat besar! Tak selesai sampai di sini, ada razia dan penggeledahan kado di setiap tas siswa. Selepasnya, tiba-tiba muncul cokelat dan pelbagai kue yang menggunung diambil paksa guru-guru itu.


Aku tak tahu persis bagaimana rasanya kado cinta yang direnggut paksa. Jujur, masa enam tahun itu aku terlalu pendiam untuk bisa mendapat cokelat. Sesekali, sebenarnya karena kesialan, aku mencoba melambungkan diri sendiri, “Sudahlah Nor… Valentine itu tak baik. Kamu anak pesantren yang wajarnya terlalu “alim” untuk mendapatnya!” Anehnya, selepas bincang batin itu, aku masih merasakan kecemburuan yang hebat. Terlebih, analogi awamku mengingatkanku pada masa sekolah dasar ketika aku menjadi sanjungan kaum hawa dan hanya karena aku ulang tahun, tas besarku tak cukup untuk menampung kado mereka. Entah mulai kapan logika artis menderaku; ia akan sangat cemburu saat pamornya mulai surut.

Kini, selepas aku sedikit telah dewasa, aku mulai sedikit paham dua logika yang berperan di sana: logika siswa yang masih belia dan guru yang tega mengambil paksa kado itu. Aku mulai mengerti mengapa dengan sangat kasarnya siswa “beruntung” itu memaki guru itu—walau hanya di belakang—sekaligus mengapa sang guru sangat tega merampas kado Valentine. Simpelnya, si siswa berpikir bahwa itu haknya dan sangat naif ia direnggut hanya karena bertepatan dengan perayaan Valentine. Di sisi lain, logika guru agamis memandang bahwa kado itu adalah semacam tanda merayakan dan buah pengaruh westernisasi, tepatnya kristenisasi, yang mulai merasuk di benak para siswa muslim. Ada dua kecenderungan saling tubruk yang aku enggan memandangnya lewat kacamata hitam-putih, benar-salah atau fikih klasik tanpa aroma humanisme di sana.

Mengapa kaca mata hitam-putih tak layak di sini? Karena yang sedang kita hadapi adalah sebuah manifestasi rasa cinta dan ketertarikan yang sedang menggelora—yang pada saat-saat tak terduga akan muncul spontan, terlebih terpacu impulse dari luar. Sebuah kerancuan ketika justivikasi tertentu keluar dari alam semayamnya. Sehingga, justivikasi agama terhadap fenomena rasa, perasaan atau kondisi jiwa tak boleh keluar dari status anjuran atau nasehat saja. Tak lebih tak kurang! Entah mengapa saya teringat sebuah gejolak jiwa Nabi yang digambarkan dalam Quran ketika beliau mengeluh tak mampu mengadilkan perasaannya. “Dan engkau tak akan mampu berbuat adil seadil-adilnya diantara isteri-isterimu walau engkau berusaha sekuat tenaga. Maka jangan kau terlalu condong sehingga karenanya kamu tinggalkan mereka bagai tergantung.” Paling tidak ayat ini adalah dalil bahwa perasaan tak dapat dijustivikasi apalagi dikekang. Nyaris mirip sebuah iman yang digambarkan para filosof Barat dengan ungkapan yang sangat nakal: iman yang dipaksakan akan terasa bau di “hidung” Tuhan.

Sigmund Freud, filosof-psikolog Barat, dengan sangat cerdas menggambarkannature of love: bahwa bagaimanapun dalamnya analisis terhadap emosi manusia; ia mungkin bisa dicerabut [sesaat] dari alam kelamin. Kemudian dengan pencarian lagi kamu harus mencari dimana dorongan utama (the primal impulse) itu yang telah mengekalkan hidup. Gejolak primitif akan selalu mampu dibangun lagi; pikiran primitif, dengan ungkapan yang sesak makna, adalah abadi.Tegasnya, ada batas dimana manivestasi rasa cinta akan selalu muncul, dengan beragam bentuk, walau ia ditumpas berkali-kali. Dengan kata lain, rasa cinta adalah abadi dan manivestasinya—dengan batas minimum tentunya—harus lebih bisa ditoleran.

Perdebatan sengit mengenai Valentine tak sengaja mengingatkanku pada sebuah perayaan agama yang kebetulan berdekatan waktunya ini: maulid Nabi. Sebuah aktivitas dimana para pengamalnya selalu mencurahkan segenap rasa cintanya pada Nabi—semoga saya menjadi bagian dari mereka. Aktivitas yang oleh sebagian kaum fundamentalis dipandang bid’ah: tak ada landasannya sama sekali. Ia tak ubahnya, menurut fundamentalisme itu, mengada-ada dalam agama dan karenanya wajib diperangi. Ujar mereka lagi bahwa perayaan Maulid pertama kali dibuat oleh Dinasti Fathimiyyah: sebuah dinasti Syi’ah, yang menjadi rahasia umum, musuh utama Wahabi.

Baiklah, kita terima bahwa maulid Nabi dicetuskan oleh Syi’ah. Itu adalah fakta sejarah yang tak patut diingkari. Namun alasan historis ini rupanya tak sepenuhnya disepakati pengamal maulid. Ibnu Hajar al-‘Asqalâni, penulis karya besar Fath al-Bâri, mencoba mengais-ngais dalil membenarkan aktivitas cinta ini. Ia mengatakan bahwa aktivitas ini sejatinya memiliki dalil yang kuat, yakni sebuah hadits yang menceritakan bahwa Nabi selalu berpuasa senin merayakan hari kelahirannya. Rupanya, istidlâl ini tak memuaskan kaum fundamentalis itu. Ia berdalih bahwa jika puasa yang dilakukan Nabi, mengapa kita harus merayakannya dengan bentuk lain? Bukankah Nabi hanya berpuasa, tidak menggelar festival besar-besaran? Mungkin jawaban pengamal maulid akan beragam. Paling tidak, saya bisa menyimpulkan sedikit argumen mereka bahwa ungkapan rasa cinta dan syukur, yang meski hanya dilakukan Nabi dengan puasa, tak dimaksud pembatasan manivestasinya. Ia boleh berubah-ubah sesuai kecenderungan dan yang dirasa paling “menohok” jiwanya untuk mencintai Nabi.

Sampai sini perdebatan berhenti dengan ketidaksepakatan yang selalu abadi. Seolah-olah ingin mendamaikan dua kecenderungan ini, Al-Syâtibi dalam al-I’tishâm berujar bahwa mengkhususkan satu hari khusus—yakni 12 Rabiul Awwal—sebagai hari raya untuk maulid Nabi memang sebuah bid’ah. Ia sepantasnya tak diyakini bahwa pengungkapan cinta Nabi harus hari itu dan di hari itu pula harus dirayakan maulid. Pengungkapan cinta seharusnya dilakukan sepanjang waktu sehingga tak terkesan bahwa hari itu adalah hari raya baru—karena membuat hari raya baru memang dilarang dalam agama.

Bagi saya, ketiga kubu ini sama-sama berputar-putar dalam sebuah “alam asing” yang seharusnya tak mereka lakukan. Bukan bermaksud mencela, namun ada satu fakta yang lupa untuk mereka perhitungkan. Fakta ini tentu saja harus diakui semua manusia yang mengaku dirinya berakal dan berperasa. Fakta bahwa perasaan cinta memang tak dapat dikekang dan dengan sendirinya akan memunculkan manivestasi yang berubah tiap zaman. Mengais-ngais argumen maulid dari perjalanan hidup Nabi jelas akan selalu dibenturkan pada keterbatasan manivestasinya di era beliau. Dan tentunya ini selalu tak disepakati oleh kelompok yang memang “menyembah” teks dan membatasinya pada manivestasi primitif belaka. Di sisi lain, rupanya, Al-Syâtibi tak menyadari bahwa pembatasan yang ia tawarkan justru terlalu ketat untuk bisa diamalkan. Bukankah ketepatan tanggal akan menambah kekuatan ingatan seseorang untuk mengenang kekasihnya? Apa yang Anda rasa ketika ada seseorang memberikan hadiah kado ultah Anda tapi terlambat atau jauh sebelum waktunya?

Mungkin fakta ini yang mendorong sekelas Ibnu Hazm menuliskan karya cintanya, Thauq al-Hamâmah. Ia menceritakan di sana bagaimana manivestasi cinta (bukan hanya cinta Tuhan dan Nabi) sangat bervariasi. Diceritakan bahwa seorang ulama zuhud di zamannya mampu menangis tersedu-sedu dan kemudian memimpikan seorang gadis, dengan rupa sangat menawan bak malaikat atau Cleopatra, sehingga mendorongnya untuk sangat “bernafsu” menikahinya. Ia (Ibnu Hazm) pun sempat mengalami pengalaman cinta pribadinya. Ia tak sengaja melihat seorang gadis—sangat molek lagi menggairahkan dengan bahasa kaum muda sekarang—sehingga ia setengah tak sadar mampu menuliskan bait-bait cinta yang sedemikian mengguncang. Cinta atau ketertarikan lawan jenis inilah pendorong utama—the primal impulse dalam bahasa Sigmund Freud—untuk melukiskan bait sastra dengan ajaib.

Selaras dengan ini Al-Ghazâli mengatakan bahwa jika diperdengarkan musik yang melantun dengan sangat indah kemudian si audiens ternyata tak tergerak hatinya sama sekali untuk sedikit “bergoyang”—walau dalam hati—itu pertanda bahwa hatinya sudah rusak; lebih keras daripada hewan. Titik keselarasannya adalah menyukai wanita dan musik yang indah keduanya sama-sama selaras dengan fitrah manusia. Jika tidak, fitrahnya benar-benar sudah terbalik. Pendapat paling aneh mungkin diungkap Ibnu ‘Arabi. Ia dengan sangat tegas berstatemen bahwa menyukai wanita adalah sumber makrifat pada Tuhan. Meski saya sendiri tak bisa memastikan makna literal ini karena jamak diketahui Shufi satu ini memang terlalu sering menggunakan rumus-rumus yang memusingkan. Dengan sedikit komparasi, paling tidak, saya bisa menyimpulkan sedikit bahwa para Shufilah yang paling selaras dengan psikologi modern. Sehingga ajaran tasawuflah yang paling mampu toleran dengan gejolak jiwa dan manivestasinya yang beragam.

Berangkat dari pengetahuan ini saya setidaknya ingin sedikit membaca fenomena Valentine yang secara de facto memang digandrungi remaja. Saya pribadi, karena sudah sedikit termakan umur, kurang mampu merasakan bagaimana kegembiraan yang mereka rasakan saat merayakannya, atau sebutlah, mengungkapkan rasa sayang dan cintanya pada pasangan tepat tanggal 14 Februari. Sejarah memang telah bertutur banyak bahwa perayaan Valentine bermula dari pembelaan seorang Pastur Valentino untuk membela hak-hak kaum Nasrani menyalurkan hasratnya ke lawan jenis. Ia menentang dogma Kristen yang melarang pernikahan. Hingga pada akhirnya ia dibunuh karena kekurangajarannya ini. Para pengelunya kemudian menyematkannya sebagai orang suci (saint). Sehingga tiap tanggal 14 Februari, tepat tanggal kematiannya, kaum Nasrani dan semua yang mendukungnya ingin sedikit mengenang perjuangannya. Mereka mengasihinya karena kasih sayangnya pada umat dan dengan demikian mereka mencoba juga menyalurkan kasih sayangnya pada pasangan masing-masing. Hanya sekedar mengenang jasa dan perjuangannya mengingatkan bahwa fitrah kasih-mengkasihi memang selayaknya tak dikekang.

Akulturasi budaya adalah aktivitas paling akut yang tak mampu dihindari. Sehingga remaja muslim, dengan sadar ataupun tak sadar, pun ikut memperingati hari “kaum lain” ini. Atau—sebagaimana teori sosiologi Ibnu Kholdoun dalam Muqaddimah-nya—bahwa al-maghlûb mûla’ bi taqlîd al-ghâlib: kaum kalah akan selalu otomatis mengikuti kaum yang menang. Faktanya memang saat ini peradaban Islam kalah total dibanding peradaban Barat. Sehingga sangat logis perayaan Barat secara sukarela meresap ke benak kaum muslim. Ini mungkin mengapa kewajiban memajukan Islam dan peradabannya adalah tanggung jawab segenap muslim berpikir. Bukan dengan cara primitif dan radikal tentunya. Tapi dengan cara cantik dan elegan yang membuat kita semakin terdidik.

Jika saya ditanya: bagaimana Anda menganalogikan Valentine dengan maulid Nabi, padahal keduanya sangat berbeda secara akut? Saya akan menjawab bahwa memang analogi semacam ini sangat tak akurat karena terjadi penyamaan dua entitas yang sama sekali berbeda secara fundamental. Dalam bahasa ushul fikih, analogi semcam ini disebut qiyâs ma’a al-fâriq. Namun saya tak sedang melakukan penggalian hukum atau semisalnya. Kalaupun disebut analogi, yang saya lakukan adalah hanya menganalogikan dua elemen yang sama dari Valentine dan maulid Nabi. Bagi saya, elemen yang sama ini adalah keduanya sama-sama menggambarkan rasa cinta dan sayangnya pada kekasih. Ini elemen yang saya ambil. Tak lebih tak kurang.

Sehingga, saya ingin menegaskan bahwa penyikapan yang terlalu radikal terhadap Valentine jelas akan mencederai watak cinta itu sendiri; ia tak dapat dikekang. Seharusnya, bahasa yang digunakan bukan dengan merampas kado atau cokelat yang telah susah payah dibuat sang kekasih untuk kekasihnya atau dengan hardikan keras yang mencederai perasaan. Namun, sebaiknya bahasa yang digunakan adalah anjuran dan nasehat yang mengharu biru. Bahasa perasaan hanya mampu dijawab dengan bahasa perasaan. Manivestasi cinta akan selalu beragam sepanjang zaman dan karenanya membutuhkan bahasa yang beragam pula. Sehingga merayakan maulid Nabi dan Valentine pun bisa beragam sepanjang zaman—tentu dengan batasan-batasan tertentu yang tak bisa saya sebut di sini. Toh, meski demikian, kita harus selalu awas bahwa selain dua elemen yang sama pada dua perayaan itu, ada banyak elemen lain yang tak sama. Semoga goresan tuts-tuts ini menjadi blue print bukti rasa cinta dan sayangku pada “kekasihku”.

Ditulis saat ingin

Menghilangkan segala

Penat dan gunda

Saat makhluk Tuhan

Kasih-mengkasihi

Saat rahmat Tuhan

Menjelma di bumi ini

0 komentar

Posting Komentar