Selasa, 31 Juli 2012

Kisah Wanita Yang Selalu Berbicara Dengan Bahasa Al-Qur’an

Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta’ala :
 
Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke
makam Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Ketika saya berada disuatu
sudut jalan, tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat
dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak
seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa
saat.

Dalam dialog tersebut wanita tua itu , setiap kali menjawab pertanyaan
Abdulah bin Mubarak, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an.
Walaupun jawabannya tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena
tidak terlepas dari konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Abdullah : “Assalamu’alaikum warahma wabarakaatuh. “
Wanita tua : “Salaamun qoulan min robbi rohiim.” (QS. Yaasin : 58) (artinya
: “Salam sebagai ucapan dari Tuhan Maha Kasih”)

Mengenang Akhlak Nabi Suci Kita : Muhammad SAW

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Setelah Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah hingar bingar dengan tangisan ummat Islam; antara percaya dan tidak, Rasul yang mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, “Ceritakan padaku akhlak Muhammad.” Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yang sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata : “ Ceritakan padaku keindahan dunia ini!” Badui ini menjawab, “Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini…” Ali menjawab, “ Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia ini, padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam 68: 4).”

Minggu, 29 Juli 2012

Sebagian Pendapat Imam Ahmad bin Hanbal r.a


                                        Tafwidh Ma’na bagi Nas-nas Mutasyabihat
============================
Imam Ahmad bin Hanbal r.a. mengikut manhaj majoritas Salaf yang menyerahkan makna nas-nas mutasyabihat kepada Allah s.w.t. tanpa memahaminya dengan makna dhahir atau dengan maknanya dari sudut bahasa.
Imam Ibn Qudamah meriwayatkan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal r.a. yang berkata:

نؤمن بها ونصدق بها لا كيف ولا معنى،
Artinya: “Kami beriman dengannya (ayat nuzul dan sebagainya) dan membenarkannya dengan tanpa kaif dan tanpa makna...” [Lam’atul I’tiqad m/s 9]
Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menjadikan perkataan ini sebagai dalil Tafwidh para ulama’ salaf dalam buku beliau Fusulun Fi Al-Aqidah(m/s: 68). Tafwidh berarti, menyerahkan makna sebenarnya  lafad kepada Allah s.w.t., karena sesuatu lafaz tersebut tidak difahami dengan maknanya dari sudut bahasa.

Rumah Tempat Kelahiran Rasulullah Dipenuhi Coretan

Beberapa jamaah haji hanya geleng-geleng kepala saat melihat rumah yang diceritakan sebagai tempat kelahiran nabi. Mereka menyayangkan tidak adanya perawatan dan perhatian dari pemerintah sebagai situs sejarah. Pemerintah Arab Saudi sengaja membiarkan rumah ini dan tetap menjadi perpustakaan yang selalu terkunci karena pemerintah Arab khawatir jika rumah ini dibangun rapi akan dijadikan tempat syirik oleh jamaah haji yang tidak mengerti masalah tauhid.
—————————————————————–
    Rumah Tempat Kelahiran Rasulullah Dipenuhi Coretan
    Muhammad Nur Hayid – detikNews
    Jumat, 28/11/2008 07:46 WIB
    (Laporan dari Arab Saudi)
Makkah – Rumah yang berukuran sekitar 10X18 meter ini merupakan bangunan terjelek yang ada di sekitar Masjidil Haram. Rumah yang diceritakan sebagai tempat Rasulullah SAW dilahirkan ini tidak dirawat layaknya situs bersejarah yang ada di Indonesia.

Kamis, 19 Juli 2012

Bantahan atas pencela aqidah kaum asy'ariyah


الحمد لله، والصلاة والصلام على مصطفاه، وآله وصحبه ومن والاه، أما بعد:
Beberapa bantahan bagi yang mencela aqidah kaum ays'ariyah:
Pertama: bahwa mereka itu adalah ulama yang membawa dan menuqilkan syariat pada bidangnya dari para pendahulunya, hal ini[MENCELA]  tidak di katakan kecuali oleh orang bodoh. mereka termasuk ulama pembawa agama yang di bersihkan sebagaimana dalam hadis sayidina usamah bin zaid RA dati Nabi SAW,sungguh beliau berkata:
: «يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله: ينفون عنه تحريف الغالين، وانتحال المبطلين، وتأويل الجاهلين»

Rabu, 18 Juli 2012

Tingkatan Zuhud

Harun al-Rasyid memuji Fudhail ibn ‘Iyadh, “Betapa engkau orang yang sangat zuhud.”

“Engkau lebih zuhud ketimbang diriku,” kata Fudhail ibn ‘Iyadh.

“Aku bersikap zuhud karena harta yang kupunya tak lebih daripada seukuran sayap nyamuk,” Fudhail ibn ‘Iyadh melanjutkan. “Aku bersikap zuhud pada urusan dunia yang fana ini. Sedangkan engkau telah melampaui diriku. Engkau bersikap zuhud pada urusan akhirat yang abadi.”

“Orang yang mampu bersikap zuhud dalam kondisi banyak harta lebih utama ketimbang orang yang bersikap zuhud dalam kondisi tak berpunya. Engkau lebih zuhud ketimbang diriku, wahai Amirul Mukminin.”[1]
  • Kekayaan dan kemiskinan sama-sama bisa menjadi hamba dan engkau tuannya, sama- sama bisa menjadi tuan dan engkau hambanya.

[1] (dari Yuhka ‘An, 216 Qishah Tajma’ al-Hikmah wa al-Tayswiq wa al-Ta’lim karya Dr Anwar Wardah, hal. 90)

Anjing juga demikian

Ibrahim ibn Adham bertanya kepada Syaqiq al-Balkhi, “Kondisi seperti apa yang bisa kau ceritakan kepadaku?”

Syaqiq al-Balkhi menjawab, “Kondisiku, jika ada rezeki, aku akan menikmatinya. Jika tidak ada, aku akan bersabar.”

“Anjing piaraan juga melakukan itu. Jika diberi makanan, dia akan makan. Jika tidak ada makanan, dia menunggu dengan sabar,” kata Ibrahim ibn Adham.

“Lalu, seharusnya bagaimana? Bagaimana denganmu?” tanya Syafiq al-Balkhi.

Ibrahim ibn Adham menjawab, “Jika ada rezeki, aku akan berbagi. Jika tidak ada, aku akan tetap bersyukur.” [1]

[1] (dari Yuhka ‘An, 216 Qishah Tajma’ al-Hikmah wa al-Tayswiq wa al-Ta’lim karya Dr Anwar Wardah, hal. 172)

Disadur dari : Warung Nalar

Ilmu Kalam, Definisi dan Objek Pembahasan

Imam al-Habib Abdullah bin 'Alawi al-Haddad (r) berkata: Jika Anda melihat ke dalam bagian-bagian yang berkaitan dengan Iman (Aqidah) DGN FEMAHAMAN YANG BAIK DARI Kitab dan Sunnah dan perkataan para pendahulu yang saleh (salafus Saleh), Anda akan tahu DENGAN pasti bahwa kebenaran ada DALAM  MADHAB AsY'ARIYAH,YANG DI SUSUN OLEH Syaikh Abul Hasan Al Ashari semoga Allah MENGUCURKAN rahmat kepadanya, DENGAN KONSEP YANG sistematis DAN MENJADI dasar-dasar akidah orang- orang YANG BERPEGANG KEPADA kebenaran (Ahlul Haqq), dan SESUAI DGN AQIDAH versi ULAMA2 sebelumnya, YAITU AQIDAH para sahabat dan MERUPAKAN AQIDAH YG DI sepakati.



Imam Al Haddad mengatakan :membutuhkan pemahaman yang baik untuk melihat bagaimana Aqidah AsY'ari tidak menyimpang dari sumber QURAN HADITS,DENGAN KONSEP YANG membutuhkan penalaran DENGAN mencari di luar aspek-aspek superfisial (yaitu Quran, Sunnah dan jalan orang Saleh salafus.).DAN Yang meNGANGGAP sebaliknya, DI KARENAKAN kebanyakan dari HUJAH AsYari dalam Aqidah tidak mengandung banyak kutipan dari Quran dan Sunnah, KARENA sebagian besar ulama AsYari yang di SEBUT (mutaklimeen),berbicara dengan bahasa ILMU KALAM ETC. INILAH DI ANTARA beberapa hal yang saya dengar yang membuat orang percaya bahwa MADHAB Ashari tidak didasarkan pada sumber-sumber transmisi ALQURAN AS SUNAH.

Mengingkari lafadh niat

Imam ibnu qoyim menolak melafadkan niat sebelum shalat secara mutlak dalam kitabnya zaadul maad 1/51:


:"كان صلى الله عليه وسلم إذا قام إلى الصلاة قال : (الله أكبر) ، ولم يقل شيئا قبلها، ولا يلفظ بالنية ألبتة! ولا قال: (أصلي لله صلاة كذا مستقبل القبلة أربع ركعات إماما أو مأموما) ولا قال: (أداء ولا قضاء ولا فرض الوقت).

; Nabi SAW ketika beliau berdiri untuk shalat,beliau langsung berkata allahu akbar,dan tidak mengucapkan/melafadkan apa apa sebelaumnya, tidak melafalkan niat sedikitpun, dan tidak mengucapkan :Ushalli Lillah [Aku shalat karena Allah] Jenis shalat [Zhuhur, Ashar, ba'diyah, qobliyah,Menghadap qiblat, Empat raka’at, Sebagai imam,Sebagai makmum, Tepat waktunya...


وهذه عشرة بدع لم ينقل عنه أحد قط بإسناد صحيح ، ولاضعيف ، ولامسند ، ولامرسل -لفظ واحدة منها ألبتة! بل ولا عن واحد من أصحابه ، ولا استحسنه أحد من التابعين ، ولا الأئمة الأربعة"انتهى.


dan inilah sepuluh bid’ah, yang tidak diriwayatkan walau oleh seorang saja, tidak dengan isnad shahih, tidak pula dho’if (lemah), tidak pula berstatus musnad, tidak pula mursal, walaupun satu lafadz saja, tidak pula dari seorang pun shahabat, dan yang mengikuti mereka dengan baik, dari kalangan tabi’in, dan tidak pula imam yang empat [Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad -pent].

Selasa, 17 Juli 2012

Hasutan Agar tidak Mentaati Sunnah Rasulullah

Contoh kesalahpahaman atau hasutan agar tidak mentaati sunnah Rasulullah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Dan sesungguhnya ummat ini akan terpecah menjadi 73 firqoh, 72 di antaranya di neraka dan hanya satu yang di surga yaitu al- Jama’ah”. (H.R. Abu Dawud)

Firqatun najiyah (kelompok yang selamat) adalah yang mengikuti al Jama’ah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“إِنَّ اللهَ لَا يُجْمِعُ أُمَّةِ عَلَى ضَلَالَةٍ وَيَدُ اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ”

“Sesungguhnya Allah tidak menghimpun ummatku diatas kesesatan. Dan tangan Allah bersama jama’ah. Barangsiapa yang menyelewengkan,
maka ia menyeleweng ke neraka“. (HR. Tirmidzi: 2168).

Dinasti Saudi yang membuktikan syahadat

Sepanjang riwayat penguasa dinasti Saudi, Raja Faisal bin Abdul Azis sajalah yang telah membuktikan syahadatnya dengan menjauhi laranganNya, dengan tidak menjadikan Amerika yang merupakan representatif kaum Zionis Yahudi sebagai teman kepercayaan, penasehat, ataupun sebagai pelindung.

Setelah resolusi PBB mengenai pemecahan Palestina dan pendirian Israel, Pangeran Faisal (masih belum menjadi raja) mendesak ayahandanya supaya memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat, tetapi desakannya itu ditolak.

Selepas skandal keuangan Raja Saud, Pangeran Faisal dilantik menjadi pemerintah sementara. Pada tanggal 2 November 1964, ia dilantik menjadi raja setelah Raja Saud di usir keluar dari Arab Saudi ke Yunani.

Raja Faisal melakukan banyak reformasi sewaktu menjadi raja, diantaranya adalah memperbolehkan anak-anak perempuan bersekolah, televisi, dan sebagainya. Usahanya ini mendapat tentangan dari berbagai pihak karena perkara-perkara
ini dianggap bertentangan dengan Islam. Ia berasa amat kecewa saat Israel memenangkan Perang Enam Hari pada tahun 1967.