Sabtu, 12 Januari 2013

Wanita Penghuni Surga Itu…

Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu
Abbas berkata padaku,
“Maukah aku tunjukkan seorang wanita
penghuni surga?”
Aku menjawab, “Ya”

Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang
kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu
berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan
(epilepsi) dan auratku tersingkap (saat
penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar
Allah Menyembuhkannya.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan
bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan
mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.

Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’
Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala
penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka,
doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’
Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. Bukhari
dan Muslim)

Betapa rindunya hati ini kepada surga-Nya
yang begitu indah. Yang luasnya seluas langit
dan bumi. Betapa besarnya harapan ini
untuk menjadi salah satu penghuni surga-
Nya. Dan subhanallah! Ada seorang wanita
yang berhasil meraih kedudukan mulia
tersebut.

Bahkan ia dipersaksikan sebagai
salah seorang penghuni surga di kala
nafasnya masih dihembuskan. Sedangkan
jantungnya masih berdetak. Kakinya pun
masih menapak di permukaan bumi.
Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas kepada
muridnya, Atha bin Abi Rabah, “Maukah aku
tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”
Aku menjawab, “Ya”
Ibnu Abbas berkata, “Wanita hitam
itulah….dst”

Wahai saudariku, tidakkah engkau iri dengan
kedudukan mulia yang berhasil diraih wanita
itu? Dan tidakkah engkau ingin tahu, apakah
gerangan amal yang mengantarkannya
menjadi seorang wanita penghuni surga?

Apakah karena ia adalah wanita yang cantik
jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia
wanita yang berkulit putih bak batu pualam?
Tidak. Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya
sebagai wanita yang berkulit hitam.
Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada
harganya dalam pandangan masyarakat. Akan
tetapi ia memiliki kedudukan mulia menurut
pandangan Allah dan Rasul-nya.

Inilah bukti
bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak ukur
kemuliaan seorang wanita. Kecuali kecantikan
fisik yang digunakan dalam koridor yang
syar’i. Yaitu yang hanya diperlihatkan kepada
suaminya dan orang-orang yang halal
baginya.

Kecantikan iman yang terpancar dari
hatinyalah yang mengantarkan seorang
wanita ke kedudukan yang mulia. Dengan
ketaqwaannya, keimanannya, keindahan
akhlaqnya, amalan-amalan shalihnya,
seorang wanita yang buruk rupa di mata
manusia pun akan menjelma menjadi
secantik bidadari surga.

Bagaimanakah dengan wanita zaman
sekarang yang sibuk memakai kosmetik ini-itu
demi mendapatkan kulit yang putih tetapi
enggan memutihkan hatinya? Mereka begitu
khawatir akan segala hal yang bisa merusak
kecantikkannya, tetapi tak khawatir bila iman
dan hatinya yang bersih ternoda oleh noda-
noda hitam kemaksiatan – semoga Allah
Memberi mereka petunjuk -.
Kecantikan fisik bukanlah segalanya.
Betapa
banyak kecantikan fisik yang justru
mengantarkan pemiliknya pada kemudahan
dalam bermaksiat. Maka saudariku, seperti
apapun rupamu, seperti apapun fisikmu,
janganlah engkau merasa rendah diri.

Syukurilah sebagai nikmat Allah yang sangat
berharga. Cantikkanlah imanmu. Cantikkanlah
hati dan akhlakmu.
Wahai saudariku, wanita hitam itu menderita
penyakit ayan sehingga ia datang kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
meminta beliau agar berdoa kepada Allah
untuk kesembuhannya. Seorang muslim boleh
berusaha demi kesembuhan dari penyakit
yang dideritanya. Asalkan cara yang
dilakukannya tidak melanggar syariat. Salah
satunya adalah dengan doa. Baik doa yang
dipanjatkan sendiri, maupun meminta
didoakan orang shalih yang masih hidup. Dan
dalam hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam memiliki keistimewaan berupa
doa-doanya yang dikabulkan oleh Allah.

Wanita itu berkata, “Aku menderita penyakit
ayan dan auratku tersingkap (saat penyakitku
kambuh). Doakanlah untukku agar Allah
Menyembuhkannya.”

Saudariku, penyakit ayan bukanlah penyakit
yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita
oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu
yang sering ditanggung para penderita
penyakit ayan karena banyak anggota
masyarakat yang masih menganggap penyakit
ini sebagai penyakit yang menjijikkan.

Tapi, lihatlah perkataannya. Apakah engkau
lihat satu kata saja yang menunjukkan bahwa
ia benci terhadap takdir yang menimpanya?
Apakah ia mengeluhkan betapa menderitanya
ia? Betapa malunya ia karena menderita
penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia
keluhkan. Justru ia mengeluhkan auratnya
yang tersingkap saat penyakitnya kambuh.
Subhanallah. Ia adalah seorang wanita yang
sangat khawatir bila auratnya tersingkap. Ia
tahu betul akan kewajiban seorang wanita
menutup auratnya dan ia berusaha
melaksanakannya meski dalam keadaan sakit.

Inilah salah satu ciri wanita shalihah, calon
penghuni surga. Yaitu mempunyai sifat malu
dan senantiasa berusaha menjaga
kehormatannya dengan menutup auratnya.
Bagaimana dengan wanita zaman sekarang
yang di saat sehat pun dengan rela hati
membuka auratnya???
Saudariku, dalam hadits di atas terdapat pula
dalil atas keutamaan sabar. Dan kesabaran
merupakan salah satu sebab seseorang
masuk ke dalam surga. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau mau,
engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika
engkau mau, aku akan mendoakanmu agar
Allah Menyembuhkanmu.” Wanita itu
menjawab, “Aku pilih bersabar.”

Wanita itu lebih memilih bersabar walaupun
harus menderita penyakit ayan agar bisa
menjadi penghuni surga. Salah satu ciri
wanita shalihah yang ditunjukkan oleh wanita
itu lagi, bersabar menghadapi cobaan dengan
kesabaran yang baik.

Saudariku, terkadang seorang hamba tidak
mampu mencapai kedudukan kedudukan
mulia di sisi Allah dengan seluruh amalan
perbuatannya. Maka, Allah akan terus
memberikan cobaan kepada hamba tersebut
dengan suatu hal yang tidak disukainya.

Kemudian Allah Memberi kesabaran
kepadanya untuk menghadapi cobaan
tersebut. Sehingga, dengan kesabarannya
dalam menghadapi cobaan, sang hamba
mencapai kedudukan mulia yang sebelumnya
ia tidak dapat mencapainya dengan
amalannya.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, “Jika datang suatu
kedudukan mulia dari Allah untuk seorang
hamba yang mana ia belum mencapainya
dengan amalannya, maka Allah akan
memberinya musibah pada tubuhnya atau
hartanya atau anaknya, lalu Allah akan
menyabarkannya hingga mencapai kedudukan
mulia yang datang kepadanya.” (HR. Imam
Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah
Al-Haadits Ash-shahihah 2599)
Maka, saat cobaan menimpa, berusahalah
untuk bersabar. Kita berharap, dengan
kesabaran kita dalam menghadapi cobaan
Allah akan Mengampuni dosa-dosa kita dan
mengangkat kita ke kedudukan mulia di sisi-
Nya.
Lalu wanita itu melanjutkan perkataannya,
“Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku
terbuka, doakanlah agar auratku tidak
tersingkap.” Maka Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah
agar auratnya tidak tersingkap. Wanita itu
tetap menderita ayan akan tetapi auratnya
tidak tersingkap.
Wahai saudariku, seorang wanita yang
ingatannya sedang dalam keadaan tidak
sadar, kemudian auratnya tak sengaja
terbuka, maka tak ada dosa baginya. Karena
hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi,
lihatlah wanita tersebut. Bahkan di saat
sakitnya, ia ingin auratnya tetap tertutup. Di
saat ia sedang tak sadar disebabkan
penyakitnya, ia ingin kehormatannya sebagai
muslimah tetap terjaga. Bagaimana dengan
wanita zaman sekarang yang secara sadar
justru membuka auratnya dan sama sekali
tak merasa malu bila ada lelaki yang
melihatnya? Maka, masihkah tersisa
kehormatannya sebagai seorang muslimah?

Saudariku, semoga kita bisa belajar dan
mengambil manfaat dari wanita penghuni
surga tersebut. Wallahu Ta’ala a’lam.
===
Penulis: Ummu Rumman Siti Fatimah
Muraja’ah: ustadz Abu Salman

Sumber

Kamis, 10 Januari 2013

Benarkah Imam Al-Ghazali belajar Hadist hanya diakhir hayat?

Ada beberapa pihak yang memiliki
pemikiran berlawanan dengan Hujjatul
Islam Al Ghazali menyimpulkan bahwa
kajian Al Ghazali terhadap Shahih Al
Bukhari dan Shahih Muslim menjelang
wafat, menunjukkan bahwa beliau
sebelumnya jauh dari Sunnah dan di akhir
hayat beliau telah kembali kepada Sunnah!

Cara berfikir seperti ini tidak bisa
dibenarkan. Apakah jika seseorang di akhir
hayatnya banyak mengkaji hadits otomatis
ia sebelumnya ia jauh dari hadits? Atau
membenci hadits? Atau belum mengkaji
hadits? Belum tentu. Banyak orang yang
membaca hadits di akhir hayatnya, dan
sebelumnya juga mempelajari hadits dan
mengamalkan serta mengajarkannya.

Demikian pula Imam Al Ghazali ini.
Al Ghazali sebelumnya sudah menyimak
Shahih Al Bukhari dan lainnya
Kajian Al Ghazali terhadap Shahih Al
Bukhari di akhir hayat beliau sama sekali
tidak menunjukkan bahwa beliau
sebelumnya jauh dari Sunnah, karena
beliau sudah akrab dengan Sunnah sejak
beliau mencari ilmu.

Berikut ini keterangan
para huffadz dan ulama mengenai hal ini.
Abdul Ghafir Al Farisi:
“Di akhir hayat, beliau menyambut hadits
Al Musthafa Shalallahu Alaihi Wasallam,
dan duduk bersama para ahlinya, serta
menelaah As Shahihain, Bukhari dan
Muslim, yang mana keduanya (As
Shahihain) merupakan hujjah Islam.
Seandainya beliau masih hidup maka
benar-benar melampaui semuanya dari
disiplin ilmu tersebut (hadits), dengan
waktu yang cukup singkat, beliau
meluangkan waktu untuk memperolehnya.”
Kemudian, Abdul Ghafir Al Farisi
melanjutkan:
”Tidak diragukan lagi bahwa beliau telah
menyimak hadits di waktu-waktu
sebelumnya dan beliau menyibukkan diri
dengan menyimaknya di akhir hayat walau
tidak sebagai perawi, namun hal itu tidak
membahayakan terhadap apa yang beliau
tinggalkan dari buku-buku yang ditulis
dalam masalah ushul, furu’ dan seluruh
varian (karya) yang tiada henti-hentinya
disebut. Dan ditetapkan oleh mereka yang
telah menelaah bahwa tidak ada yang
meninggalkan karya yang sebanding
dengannya”(Lihat, Thabaqat As Syafi’iyah Al
Kubra,6/210).

Al Hafidz Ibnu Asakir:
”Beliau telah menyimak Shahih Al Bukhari
dari Abu Sahl Muhammad bin Abdillah Al
Hafshi dan menjadi guru di Madrasah
Nidhamiyah di Baghdad. Kemudian keluar
ke Syam mengunjungi Bait Al Maqdis.
Kemudian menuju Damaskus tahun 489 H
dan bermukim beberapa waktu di sana.
Telah sampai kepadaku bahwa di sana
beliau menulis beberapa karya beliau.
Kemudian kembali ke Baghdad lalu ke
Khurasan. Kemudian mengajar beberapa
saat di Thus, setelah itu meninggalkan
pengajaran dan perdebatan untuk
menyibukkan diri dengan ibadah.”
Kemudian Hafidz Ibnu Asakir menyebutkan:
”Disebutkan bahwa beliau mengundang
Abu Al Fityan Umar bin Abi Hasan Ar
Rawasi, seorang Hafidz di Thus, dan
memulyakan beliau. Beliau (Al Ghazali)
menyimak dari beliau (Ar Rawasi) Shahih
Bukhari dan Muslim”(Lihat, Thabaqat As
Syafi’iyah Al Kubra, 6/210).

Dari paparan Abdul Ghafir Al Farisi dan Al
Hafidz Ibnu Asakir kita mengatahui bahwa
Imam Al Ghazali sebelum menyimak hadits
dari Ar Rawasi di Thus, kota dimana beliau
meninggal, beliau sudah menyimak Shahih
Bukhari terlebih dahulu kepada Al Hafshi.
Al Hafidz Al Hafshi sendiri adalah guru dari
Imam Al Juwaini, guru Imam Ghazali juga
yang tinggal di Naisabur. Apa yang
dikatakan Al Hafidz Ibnu Asakir, bahwa
beliau sejak awal sudah mengkaji Shahih Al
Bukhari menunjukkan bahwa Al Ghazali
menyimaknya saat menuntut ilmu di
Naisabur, sebelum mengajar di Baghdad
yang pertama.

Disamping Shahih Bukhari beliau juga telah
menyimak dua juz kitab Maulid Ar Rasul
yang ditulis oleh Abu Bakar As Syaibani
dari Syeikh Abu Abdullah Muhammad bin
Muhammad Al Khuwari (lihat, Thabaqat As
Syafi’iyah Al Kubra, 6/213).
Hadits-hadits dalam Ihya menunjukkan
bahwa Al Ghazali telah menelaah hadits

Selain data di atas, ada fakta yang
menjukkan bahwa Al Ghazali sudah sudah
mengkaji kitab-kitab Sunnah jauh sebelum
beliau mengkajinya di akhir hayat. Fakta itu
adalah hadits-hadits yang termaktub dalam
kitab Ihya Ulumuddin.
Murujuk takhrij Al Hafidz Al Iraqi mengenai
hadits-hadits Ihya, beliau telah
menjelaskan asal-asal hadits dalam kitab
tersebut. Tidak hanya berasal dari Shahih
Al Bukhari, Muslim dan Ibnu Huzaimah.
Hadits-hadits lainnya juga dikeluarkan
Ashab As Sunan (At Tirmidzi, An Nasai, Abu
Dawud, dan Ibnu Majah), dan kitab-kitab
hadits lainnya seperti Musnad Ahmad,
Firdaus atau Syu’ab Al Iman Al Baihaqi, Al
Marasil Ibnu Abi Dunya, dll (lihat, Takhrij
Ihya dihamisy Ihya Ulumuddin cet. Dar
Sya’b, Kairo).

Tentu, Al Ghazali tidak akan mampu
mengetengahkan hadits-hadits dari
berbagai sumber itu, untuk dijadikan
hujjah kecuali setelah beliau menelaah
hadits itu terlebih dahulu, dari berbagai
kitab dan sumber.

Ihya sendiri telah beliau tulis sebelum
kembali ke Baghdad untuk kedua kalinya,
yakni ketika berada di Syam. Dan saat
beliau tiba di Baghdad, beliau telah
mengajarkan Ihya di sana (Lihat, Thabaqat
As Syafi’iyah Al Kubra, 6/200, 207).

Baru setelah itu beliau ke Khurasan lalu
kembali ke kampung halaman beliau di
Thus dan mendirikan madrasah di samping
rumah beliau dan mengajar di sekolah
tersebut. Di saat mendekati wafat beliau
menyimak Shahih Al Bukhari dan Muslim
dari Ar Rawasi, dan wafat pada tahun 505
H.
Bukhari-Muslim, tidak cukup untuk
menjadikan seorang memperoleh gelar Al
Hujjah,sedangkan al ghazali gelarnya
adalah hujjatul islam

Argumen lain yang memperkuat bahwa
Imam Al Ghazali telah mengkaji hadits
tidak hanya ketika beliau hendak wafat
saja adalah gelar beliau Al Hujjah.
Jika gelar Al Hujjah adalah orang yang
menguasai mayoritas Sunnah dan tidak
luput darinya kecuali sedikit, sesuai
dengan keterangan Al Allamah An Nawawi
Al Bantani saat mensyarah maksud kata
“Hujjatul Islam” yang terdapat di matan
Bidayah Al Hidayah karya Imam Al Ghazali
(Lihat, Maraqi Al Ubudiyah, hal. 2), maka,
tidak mungkin Al Ghazali memperoleh gelar
itu dengan hanya menyimak As Shahihain
di akhir hayat beliau.

Walhasil, menyimpulkan Imam Al Ghazali
jauh dari Sunnah, hanya karena beliau
menyimak As Shahihain di akhir hidup
beliau merupakan argumen yang amat
lemah, karena sesuai dengan fakta dan
data sejarah, beliau jauh-jauh sebelumnya
sudah akrab dengan Sunnah.
Bagaimana Al Ghazali dikatakan jauh dari
Sunnah? Sedangkan Al Hafidz Ibnu Najjar
sendiri menyebut beliau sebagai Imam
fuqaha’ yang menjelaskan keburukan ahlul
bid’ah dan bangkit membela Sunnah (lihat,
Thabaqat As Syafi’iah Al Kubra,
6/216).Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

Rujukan:
1. Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra,
Tajuddin As Subki. Hijr Gizah, cet. 2, th.
1413 (1992),
2. Ihya Ulumuddin dengan hamisy Takhrij
Ahadits Ihya, Al Ghazali, Al Iraqi, cet. Dar
Sya’b, Kairo,
3. Maraqi Al Ubudiyah, Al Allamah An
Nawawi Al Bantani, cet. Al Haramain,
Indonesia.
Sumber : Http://almanar.wordpress.com