Kamis, 10 Januari 2013

Benarkah Imam Al-Ghazali belajar Hadist hanya diakhir hayat?

Ada beberapa pihak yang memiliki
pemikiran berlawanan dengan Hujjatul
Islam Al Ghazali menyimpulkan bahwa
kajian Al Ghazali terhadap Shahih Al
Bukhari dan Shahih Muslim menjelang
wafat, menunjukkan bahwa beliau
sebelumnya jauh dari Sunnah dan di akhir
hayat beliau telah kembali kepada Sunnah!

Cara berfikir seperti ini tidak bisa
dibenarkan. Apakah jika seseorang di akhir
hayatnya banyak mengkaji hadits otomatis
ia sebelumnya ia jauh dari hadits? Atau
membenci hadits? Atau belum mengkaji
hadits? Belum tentu. Banyak orang yang
membaca hadits di akhir hayatnya, dan
sebelumnya juga mempelajari hadits dan
mengamalkan serta mengajarkannya.

Demikian pula Imam Al Ghazali ini.
Al Ghazali sebelumnya sudah menyimak
Shahih Al Bukhari dan lainnya
Kajian Al Ghazali terhadap Shahih Al
Bukhari di akhir hayat beliau sama sekali
tidak menunjukkan bahwa beliau
sebelumnya jauh dari Sunnah, karena
beliau sudah akrab dengan Sunnah sejak
beliau mencari ilmu.

Berikut ini keterangan
para huffadz dan ulama mengenai hal ini.
Abdul Ghafir Al Farisi:
“Di akhir hayat, beliau menyambut hadits
Al Musthafa Shalallahu Alaihi Wasallam,
dan duduk bersama para ahlinya, serta
menelaah As Shahihain, Bukhari dan
Muslim, yang mana keduanya (As
Shahihain) merupakan hujjah Islam.
Seandainya beliau masih hidup maka
benar-benar melampaui semuanya dari
disiplin ilmu tersebut (hadits), dengan
waktu yang cukup singkat, beliau
meluangkan waktu untuk memperolehnya.”
Kemudian, Abdul Ghafir Al Farisi
melanjutkan:
”Tidak diragukan lagi bahwa beliau telah
menyimak hadits di waktu-waktu
sebelumnya dan beliau menyibukkan diri
dengan menyimaknya di akhir hayat walau
tidak sebagai perawi, namun hal itu tidak
membahayakan terhadap apa yang beliau
tinggalkan dari buku-buku yang ditulis
dalam masalah ushul, furu’ dan seluruh
varian (karya) yang tiada henti-hentinya
disebut. Dan ditetapkan oleh mereka yang
telah menelaah bahwa tidak ada yang
meninggalkan karya yang sebanding
dengannya”(Lihat, Thabaqat As Syafi’iyah Al
Kubra,6/210).

Al Hafidz Ibnu Asakir:
”Beliau telah menyimak Shahih Al Bukhari
dari Abu Sahl Muhammad bin Abdillah Al
Hafshi dan menjadi guru di Madrasah
Nidhamiyah di Baghdad. Kemudian keluar
ke Syam mengunjungi Bait Al Maqdis.
Kemudian menuju Damaskus tahun 489 H
dan bermukim beberapa waktu di sana.
Telah sampai kepadaku bahwa di sana
beliau menulis beberapa karya beliau.
Kemudian kembali ke Baghdad lalu ke
Khurasan. Kemudian mengajar beberapa
saat di Thus, setelah itu meninggalkan
pengajaran dan perdebatan untuk
menyibukkan diri dengan ibadah.”
Kemudian Hafidz Ibnu Asakir menyebutkan:
”Disebutkan bahwa beliau mengundang
Abu Al Fityan Umar bin Abi Hasan Ar
Rawasi, seorang Hafidz di Thus, dan
memulyakan beliau. Beliau (Al Ghazali)
menyimak dari beliau (Ar Rawasi) Shahih
Bukhari dan Muslim”(Lihat, Thabaqat As
Syafi’iyah Al Kubra, 6/210).

Dari paparan Abdul Ghafir Al Farisi dan Al
Hafidz Ibnu Asakir kita mengatahui bahwa
Imam Al Ghazali sebelum menyimak hadits
dari Ar Rawasi di Thus, kota dimana beliau
meninggal, beliau sudah menyimak Shahih
Bukhari terlebih dahulu kepada Al Hafshi.
Al Hafidz Al Hafshi sendiri adalah guru dari
Imam Al Juwaini, guru Imam Ghazali juga
yang tinggal di Naisabur. Apa yang
dikatakan Al Hafidz Ibnu Asakir, bahwa
beliau sejak awal sudah mengkaji Shahih Al
Bukhari menunjukkan bahwa Al Ghazali
menyimaknya saat menuntut ilmu di
Naisabur, sebelum mengajar di Baghdad
yang pertama.

Disamping Shahih Bukhari beliau juga telah
menyimak dua juz kitab Maulid Ar Rasul
yang ditulis oleh Abu Bakar As Syaibani
dari Syeikh Abu Abdullah Muhammad bin
Muhammad Al Khuwari (lihat, Thabaqat As
Syafi’iyah Al Kubra, 6/213).
Hadits-hadits dalam Ihya menunjukkan
bahwa Al Ghazali telah menelaah hadits

Selain data di atas, ada fakta yang
menjukkan bahwa Al Ghazali sudah sudah
mengkaji kitab-kitab Sunnah jauh sebelum
beliau mengkajinya di akhir hayat. Fakta itu
adalah hadits-hadits yang termaktub dalam
kitab Ihya Ulumuddin.
Murujuk takhrij Al Hafidz Al Iraqi mengenai
hadits-hadits Ihya, beliau telah
menjelaskan asal-asal hadits dalam kitab
tersebut. Tidak hanya berasal dari Shahih
Al Bukhari, Muslim dan Ibnu Huzaimah.
Hadits-hadits lainnya juga dikeluarkan
Ashab As Sunan (At Tirmidzi, An Nasai, Abu
Dawud, dan Ibnu Majah), dan kitab-kitab
hadits lainnya seperti Musnad Ahmad,
Firdaus atau Syu’ab Al Iman Al Baihaqi, Al
Marasil Ibnu Abi Dunya, dll (lihat, Takhrij
Ihya dihamisy Ihya Ulumuddin cet. Dar
Sya’b, Kairo).

Tentu, Al Ghazali tidak akan mampu
mengetengahkan hadits-hadits dari
berbagai sumber itu, untuk dijadikan
hujjah kecuali setelah beliau menelaah
hadits itu terlebih dahulu, dari berbagai
kitab dan sumber.

Ihya sendiri telah beliau tulis sebelum
kembali ke Baghdad untuk kedua kalinya,
yakni ketika berada di Syam. Dan saat
beliau tiba di Baghdad, beliau telah
mengajarkan Ihya di sana (Lihat, Thabaqat
As Syafi’iyah Al Kubra, 6/200, 207).

Baru setelah itu beliau ke Khurasan lalu
kembali ke kampung halaman beliau di
Thus dan mendirikan madrasah di samping
rumah beliau dan mengajar di sekolah
tersebut. Di saat mendekati wafat beliau
menyimak Shahih Al Bukhari dan Muslim
dari Ar Rawasi, dan wafat pada tahun 505
H.
Bukhari-Muslim, tidak cukup untuk
menjadikan seorang memperoleh gelar Al
Hujjah,sedangkan al ghazali gelarnya
adalah hujjatul islam

Argumen lain yang memperkuat bahwa
Imam Al Ghazali telah mengkaji hadits
tidak hanya ketika beliau hendak wafat
saja adalah gelar beliau Al Hujjah.
Jika gelar Al Hujjah adalah orang yang
menguasai mayoritas Sunnah dan tidak
luput darinya kecuali sedikit, sesuai
dengan keterangan Al Allamah An Nawawi
Al Bantani saat mensyarah maksud kata
“Hujjatul Islam” yang terdapat di matan
Bidayah Al Hidayah karya Imam Al Ghazali
(Lihat, Maraqi Al Ubudiyah, hal. 2), maka,
tidak mungkin Al Ghazali memperoleh gelar
itu dengan hanya menyimak As Shahihain
di akhir hayat beliau.

Walhasil, menyimpulkan Imam Al Ghazali
jauh dari Sunnah, hanya karena beliau
menyimak As Shahihain di akhir hidup
beliau merupakan argumen yang amat
lemah, karena sesuai dengan fakta dan
data sejarah, beliau jauh-jauh sebelumnya
sudah akrab dengan Sunnah.
Bagaimana Al Ghazali dikatakan jauh dari
Sunnah? Sedangkan Al Hafidz Ibnu Najjar
sendiri menyebut beliau sebagai Imam
fuqaha’ yang menjelaskan keburukan ahlul
bid’ah dan bangkit membela Sunnah (lihat,
Thabaqat As Syafi’iah Al Kubra,
6/216).Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.

Rujukan:
1. Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra,
Tajuddin As Subki. Hijr Gizah, cet. 2, th.
1413 (1992),
2. Ihya Ulumuddin dengan hamisy Takhrij
Ahadits Ihya, Al Ghazali, Al Iraqi, cet. Dar
Sya’b, Kairo,
3. Maraqi Al Ubudiyah, Al Allamah An
Nawawi Al Bantani, cet. Al Haramain,
Indonesia.
Sumber : Http://almanar.wordpress.com

0 komentar

Posting Komentar